Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Skenario Defisit 5,2 Persen, Pembiayaan Anggaran 2021 Bisa Tembus Rp921,5 Triliun

Dengan pelebaran defisit, kebutuhan pembiayaan alias utang untuk mendorong belanja pemulihan ekonomi dapat mencapai hampir Rp1.000 triliun.
Edi Suwiknyo
Edi Suwiknyo - Bisnis.com 28 Juli 2020  |  15:09 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani menjawab pertanyaan wartawan usai melakukan pelaporan Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan di Kantor DJP, Jakarta, Selasa (10/3/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Menteri Keuangan Sri Mulyani menjawab pertanyaan wartawan usai melakukan pelaporan Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan di Kantor DJP, Jakarta, Selasa (10/3/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA - Melonjaknya kebutuhan anggaran untuk mempercepat pemulihan ekonomi membuat defisit RAPBN 2021 diproyeksikan tembus hingga 5,2 persen dari produk domestik bruto (PDB).

Proyeksi defisit ini melonjak 1 persen dari PDB dibandingkan angka sebelumnya yang ada di kisaran 4,17 persen dari PDB. Pelebaran defisit RAPBN 2021 ini juga menunjukkan laju perekonomian tahun depan masih belum normal.

Artinya kebutuhan pembiayaan alias utang untuk mendorong belanja pemulihan ekonomi masih besar. Besar kemungkinan, penerimaan pajak juga belum pulih karena transformasi perekonomian yang belum berjalan signifikan.

Di tengah kondisi tersebut, upaya memperlebar ruang fiskal memang menjadi pilihan logis. Apalagi, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut ada prioritas anggaran senilai Rp179 triliun yang tentu saja akan memengaruhi pengelolaan fiskal tahun depan.

Pertanyaannya, berapa angka defisit APBN, jika defisit dipatok 5,2 persen dari PDB? Serta bagaimana pengaruhnya ke postur anggaran?

Sejauh ini, pemerintah memang tengah menyusun nota keuangan RAPBN 2021 yang tentu saja akan memuat angka defisit APBN 2021. Meski akan diumumkan, namun angkanya sebenarnya bisa diprediksi dengan menggunakan sejumlah skema hitungan.

Salah satunya dengan berpijak dari realisasi pertumbuhan ekonomi 2020. Sebagai ilustrasi, jika pertumbuhan ekonomi tahun 2020 berada di posisi 0 persen, praktis angka PDB tahun ini akan sama dengan tahun 2019 yakni di angka Rp15.833,9 triliun.

Sementara itu, jika tahun depan pertumbuhan ekonomi diasumsikan sebesar 4,5 persen artinya PDB tahun 2021 akan berada di kisaran Rp16.598,6 triliun. Dengan proyeksi defisit 5,2 persen dari PDB, maka kebutuhan pembiayaan defisit pada tahun 2021 mencapai Rp863,1 triliun.

Adapun, jika angka asumsi pertumbuhan ekonomi di kisaran 5,5 persen pada 2021, maka posisi PDB tahun depan ada di angka Rp16.754,7 triliun. Artinya, jika defisit dipatok di angka 5,2 persen maka pembiayaan defisit APBN pada 2021 bisa mencapai Rp921,5 triliun.

Tentu saja angka defisit ini bisa berubah, apalagi jika pertumbuhan ekonomi pada tahun 2020 berada di bawah 0 persen atau resesi, angka defisitnya praktis jauh lebih besar dan lonjakan utang pun menanti.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pembiayaan defisit anggaran
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top