Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

China Buat Kejutan Perdagangan, Awas Ancaman Tensi Amerika

Tanpa diduga, ekspor dan impor China meningkat pada Juni meskipun pandemi Covid-19 terus menggerogoti perekonomian global. Namun, tidak berarti tekanan terhadap perdagangan China telah berlalu.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 14 Juli 2020  |  14:43 WIB
Pabrik Hyundai, industri otomotif Korea Selatan, di Beijing, China./Bloomberg - Tomohiro Ohsumi
Pabrik Hyundai, industri otomotif Korea Selatan, di Beijing, China./Bloomberg - Tomohiro Ohsumi

Bisnis.com, JAKARTA – Tanpa diduga, ekspor dan impor China meningkat pada Juni meskipun pandemi Covid-19 terus menggerogoti perekonomian global. Namun, tidak berarti tekanan terhadap perdagangan China telah berlalu.

Badan bea cukai China pada Selasa (14/7/2020) melaporkan ekspor China naik 0,5 persen dalam dolar AS pada Juni 2020 dibandingkan dengan tahun sebelumnya, sedangkan impor berekspansi 2,7 persen.

Raihan tersebut berbanding terbaik dengan proyeksi para ekonom yang memperkirakan penurunan untuk ekspor dan impor. Sementara itu, surplus perdagangan mencapai US$46,4 miliar pada Juni.

Adapun dalam yuan, ekspor China dilaporkan tumbuh 4,3 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya, sedangkan impor naik 6,2 persen.

Hasil itu jauh lebih baik dari proyeksi para ekonom yang memperkirakan ekspor China pada Juni akan meningkat 3,5 persen dan impor menyusut 4,7 persen.

Peningkatan yang mengejutkan ini terjadi ketika beberapa negara maju mulai membuka kembali kegiatan perekonomiannya. Indikator untuk aktivitas manufaktur di seluruh dunia tampak membaik pada Juni.

Pengiriman masker dan pasokan medis lainnya juga berkontribusi pada ekspansi ekspor, sementara impor terbantukan oleh kenaikan harga komoditas dan pemulihan ekonomi di dalam negeri.

“Permintaan untuk ekspor China meningkat di pasar-pasar utama seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa saat lockdown dilonggarkan dan belanja konsumen meningkat,” ujar Kepala Ekonom untuk Asia-Pasifik di IHS Markit Ltd. Rajiv Biswas.

“Rebound yang kuat dalam indeks PMI untuk AS dan zona Euro pada Juni menandakan peningkatan bertahap dalam ekspor China pada paruh kedua 2020, terutama karena peritel mulai melakukan pemesanan untuk musim Natal,” terangnya, dilansir dari Bloomberg.

Terlepas dari peningkatan pada Juni, perdagangan dalam enam bulan pertama tahun ini masih turun dari periode yang sama tahun lalu. Ekspor dalam dolar hingga akhir Juni 6,2 persen lebih kecil dari ekspor pada 2019, sementara impor 7,1 persen lebih rendah.

Di samping berita positif, negara-negara seperti AS masih memiliki jalan panjang untuk mengendalikan penyebaran Covid-19 dan belum ada tanda-tanda kapan permintaan global untuk ekspor China akan pulih secara berkelanjutan ke level pra-pandemi.

Memburuknya hubungan dengan AS menambah ketidakpastian perdagangan, meskipun China telah meningkatkan upaya untuk memenuhi ketentuan kesepakatan perdagangan.

“Ke depannya, kami memperkirakan data pada Juli akan mengalami beberapa kelesuan dan ekspor akan menghadapi tekanan pada paruh kedua tahun ini,” tutur Ekonom pasar di Australia & New Zealand Bank Group Ltd. Xing Zhaopeng.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekonomi china ekspor china impor china
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top