Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kadin: PMI Indonesia Masih Sulit Capai Angka 50

Meski indeks Purchasing Managers Index (PMI) Indonesia melonjak hampir 11 poin, pelaku usaha menilai PMI sulit mencapai 50 selama Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) masih berlaku.
Akbar Evandio
Akbar Evandio - Bisnis.com 01 Juli 2020  |  18:38 WIB
Aktivitas karyawan di salah satu pabrik di Jakarta, Jumat (20/9/2019). Bisnis - Arief Hermawan P
Aktivitas karyawan di salah satu pabrik di Jakarta, Jumat (20/9/2019). Bisnis - Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA — Pelaku usaha menilai indeks Purchasing Managers Index (PMI) yang melonjak hampir 11 poin di Juni menjadi 39,1 dari 28,6 pada Mei 2020 disebabkan oleh Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang mulai dilonggarkan.

Wakil Ketua Umum Bidang Perindustrian Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Johnny Darmawan memprediksi indeks PMI Indonesia hanya mampu mencapai kisaran 30-40 poin sehingga sulit untuk mencapai angka 50 kembali selama PSBB masih berlaku.

Pasalnya, dia menilai kapasitas pegawai kantor masih dibatasi 50 persen selama pandemi Covid-19 sehingga operasional perusahaan pun masih terbatas.

“Jadi, gini selama [keadaan] belum normal, masih sulit untuk mencapai [PMI] 50. Nah, [untuk Juni] gak heran karena waktu itu PSBB sudah dilonggarkan yang Menteri Perindustrian mengeluarkan izin [terhadap] 11 sektor perusahaan atau industri yang boleh beroperasi,” tuturnya.

Menurutnya, Johnny menyebutkan peningkatan PMI akan terlihat seiring bertambahnya kapasitas pegawai kantor. Namun, dia mengatakan bahwa hal ini dikecualikan untuk perusahaan yang melakukan otomatisasi atau penggunaan robot.

“Kalau di Indonesia sulit, kita kan [industri] padat karya, pemerintah juga mengharapkan tenaga kerja dapat terserap sepenuhnya. Jadi, kalau di luar negeri PMI-nya di atas 50 mungkin bisa karena otomatisasi ini. Namun, kalau nanti sudah [kapasitas pegawai] sudah penuh atau boleh berjalan ke 75 persen baru [PMI] meningkat, tetapi kembali normal ke 50 itu masih repot karena selama Covid-19 masih itu menjadi hambatan utama,” jelasnya.

Selain itu, Johnny pun optimis mendengar kabar bahwa vaksin Covid-19 telah ditemukan. Menurutnya, dengan adanya vaksin, kegiatan industri manufaktur dapat segera berjalan dengan normal sehingga PMI Indonesia akan kembali pulih di atas 50.

“Menurut saya, [vaksin] saat ini di fase ketiga dan sudah dites ke orang, tetapi perlu observasi hingga 3 bulan lagi, kira-kira September—Oktober akan diproses dan produksi obatnya, begitu vaksin ini selesai, paling setelah di kuartal I/2020 atau Maret ke atas [PMI kembali pulih], [Selain itu] September 2020 juga kapasitas pegawai mulai 75 persen,” tuturnya.

Sementara itu, indikasi pemulihan ekonomi juga terlihat di beberapa negara Asia Tenggara misalnya Malaysia dan Vietnam. Selain itu, tiga negara pusat manufaktur yakni Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan menunjukkan perbaikan meski angkanya masih di bawah 50.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Pertumbuhan Ekonomi indeks manufaktur pmi manufaktur
Editor : Amanda Kusumawardhani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top