Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Bisakah 'Kebersihan' Jadi Modal Mendongkrak Pendapatan Blue Bird?

Direktur Utama Blue Bird Noni Purnomo mengatakan pihaknya sebenarnya pada awal 2020 mendapatkan peningkatan pendapatan jika dibandingkan dengan periode yang sama pada 2019.
Rinaldi Mohammad Azka
Rinaldi Mohammad Azka - Bisnis.com 16 Juni 2020  |  13:50 WIB
Pengemudi mengoperasikan taksi listrik Bluebird di sela-sela peluncurannya di Jakarta, Senin (22/4/2019). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan
Pengemudi mengoperasikan taksi listrik Bluebird di sela-sela peluncurannya di Jakarta, Senin (22/4/2019). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA – PT Blue Bird Tbk. (BIRD) berharap dapat meningkatkan pendapatan di masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) transisi dengan mengedepankan kebersihan sebagai protokol utama.

Direktur Utama Blue Bird Noni Purnomo mengatakan pihaknya sebenarnya pada awal 2020 mendapatkan peningkatan pendapatan jika dibandingkan dengan periode yang sama pada 2019. Namun, pandemi cukup memukul pendapatannya hingga 70 persen.

"Januari dan Februari 2020, revenue kami lebih baik dibandingkan tahun lalu, tapi Maret 2020 langsung turun 50 persen, April 2020 turun 70 persen. Hadapi new normal kami masih meraba-raba, pemerintah juga masih terus ada peraturan baru yang penting kami masih bisa berkelanjutan dan jangan sampai nanti ada gelombang kedua [Covid-19]," jelasnya dalam sebuah forum diskusi virtual, Selasa (16/6/2020).

Dia menyebut fokus Blue bird saat ini adalah tetap bertahan hidup karena memiliki banyak tanggungan dimana jumlah pekerja hingga 40.000 orang dan masih adanya penumpang yang mengandalkan layanannya di masa PSBB dan pandemi virus corona seperti para tenaga kesehatan.

Noni mengatakan saat ini yang layanannya fokus mempelajari kebutuhan dan perubahan di masyarakat akibat pandemi virus corona.

Sejumlah kebijakan pun dilakukan dan dipercepat, yakni low touch, hyegiene as new currency, new engagement, dan new services.

Low touch yang dimaksud yakni meminimalisir sentuhan atau secara nyata yang dilakukan yakni pengembangan cashless dengan menyediakan berbagai pilihan pembayaran bagi pelanggan dari mulai kartu kredit hingga finansial teknologi.

"Pengembangan cashless kami fokus pindahkan agar lebih banyak pembayaran ke non tunai, integrasi non cash ke aplikasi bluebird, termasuk ketika memberhentikan taksi di jalan juga bisa bayar pakai cashless," paparnya.

Termasuk layanan baru berupa pengantaran barang pun diminimalisir bahkan barang tidak disentuh oleh pengemudi. Hal ini dapat dilakukan dengan berprinsip tetap menjaga jarak.

Di sisi lain, kebersihan menjadi mata uang baru yakni penerapan protokol kesehatan dan prinsip kebersihan yang ketat di tataran internal BIRD dilakukan, mulai penyemprotan desinfektan dan mencuci mobil setiap masuk pool dan keluar pool, hingga pemeriksaan rapid test bagi pengemudi yang sudah tidak aktif lebih dari 2 bulan.

"Di setiap pool ada klinik gratis untuk pengemudi, pengemudi baru yang sudah non aktif selama 2 bulan, setiap pengemudi ini kami lakukan rapid test, sudah aman dulu baru masuk lagi," urainya.

Adapun prinsip menjaga hubungan dengan pelanggan pun dilakukan dengan pembaharuan aplikasi MyBluebird setiap 2 bulan sekali. Pihaknya juga terus berkolaborasi dengan berbagai pihak seperti bandara, Gojek, Traveloka dan perusahaan taksi internasional.

"Kami juga sudah beli travel Cititrans, sehingga mudah-mudahan bisa memberikan solusi transportasi yang lebih menyeluruh, memberi layanan mobility as a service," imbuhnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

taksi Blue Bird
Editor : David Eka Issetiabudi
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top