Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Target Bauran Energi 2025, Masih Berkurtat di Strategi Keberlanjutan Energi

Direktur Pembinaan Program Ketenagalistrikan Jisman Hutajulu mengatakan ke depan banyak tantangan yang dihadapi dalam pengembangan EBT ini terutama untuk meningkatkan share EBT di dalam bauran energi nasional.
Yanita Petriella
Yanita Petriella - Bisnis.com 11 Juni 2020  |  15:49 WIB
Petugas melakukan pengawasan dan pengecekan pada pembangkit listrik tenaga panas bumi. Istimewa - PLN
Petugas melakukan pengawasan dan pengecekan pada pembangkit listrik tenaga panas bumi. Istimewa - PLN

Bisnis.com, JAKARTA – Pemerintah bersama PT PLN (Persero) punya strategi untuk memenuhi aspek energy sustainability dengan memanfaatkan dan mengembangkan energi terbarukan, khususnya potensi energi setempat di suatu daerah secara lebih luas.

Direktur Pembinaan Program Ketenagalistrikan Jisman Hutajulu mengatakan ke depan banyak tantangan yang dihadapi dalam pengembangan EBT ini terutama untuk meningkatkan share EBT di dalam bauran energi nasional.

"Dengan EBT ini selain green yang kita peroleh, kita menuju ke ketahanan energi dengan memanfaatkan sumber daya yang ada di negara kita, bukan impor," ujarnya dalam siaran pers, Kamis (11/6/2020).

Kebijakan bauran EBT 23 persen ini telah diimplementasikan dalam Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) 2019-2038 yang menjadi dasar penyusunan Rencana Umum Ketenagalistrikan Daerah (RUKD), maupun Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero) 2019-2028.

Menurutnya, pengembangan energi terbarukan yang berkelanjutan menjadi penting karena saat ini untuk menuju ketahanan energi Indonesia perlu pemanfaatan energi setempat yang bersih.

Selain itu, pembiayaan pembangunan proyek berbasis energi fosil seperti pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batubara juga sudah dihentikan oleh negara-negara pemberi modal.

Jisman menyampaikan EBT banyak berada di daerah-daerah remote di kepulauan yang belum terlistriki karena belum bisa dimasukkan dalam jaringan PLN. Adapun saat ini terdapat total 433 desa di Indonesia yang belum mendapatkan listrik.

"Kami coba menyalakan tahun ini. Karena desa-desa ini scattered (tersebar), maka diperlukan teknologi karena tidak bisa extension grid dari PLN. Paling cocok di sana adalah dengan mengembangkan energi setempat, dengan EBT," tuturnya.

Dia mencontohkan pengunaan energi surya dan air untuk melistriki desa-desa tersebut. Lalu strategi untuk mencapai target EBT 23 persen untuk masuk dalam bauran energi.

"Contohnya, kami sudah memprogamkan PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) untuk daerah bekas tambang. Ini sudah dibahas dan kemungkinan di RUPTL yang baru akan kita masukkan. Nanti juga akan ada banyak PLTS yang floating (terapung), sudah dimulai dengan 145 MWp Cirata. Ke depan akan ada banyak dam-dam (bendungan) yang kita gunakan untuk PLTS floating, juga ada PLTB (Pembangkit Listrik Tenaga Bayu-red) Sidrap ekspansi, Sukabumi, dan lainnya," tuturnya.

Dia berharap program-program EBT yang dibahas dalam Pelatihan Perencanaan Ketenagalistrikan berbasis EBT dapat berkelanjutan dan menjadi contoh bagi program-program lainnya.

"Pelatihan ini agar Bapak/Ibu bisa menyiapkan program yang sifatnya sustain (berkelanjutan), jangan hanya euphoria saja," tutur Jisman.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

PLN ebt
Editor : David Eka Issetiabudi
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top