Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ini Perjanjian Dagang yang Diharapkan Segera Selesai Oleh Pengusaha

Para pengusaha meminta pemerintah memfokuskan diri pada perjanjian dagang yang telah mencapai tahap kesepakatan substansial, agar dapat segera diratifikasi dan dijalankan demi mendongkrak kinerja ekspor RI.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 11 Juni 2020  |  15:17 WIB
Foto aerial pelabuhan peti kemas Koja di Jakarta. (25/12/2019). Bisnis - Himawan L Nugraha
Foto aerial pelabuhan peti kemas Koja di Jakarta. (25/12/2019). Bisnis - Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA – Para pelaku usaha mengharapkan sejumlah perjanjian perdagangan dapat segera dirampungkan demi mengoptimalisasi kinerja niaga Indonesia ke negara mitra.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia Shinta W. Kamdani menyatakan, penyelesaian perjanjian dagang seharusnya diprioritaskan pada kesepakatan yang secara substansial telah disepakati seperti Indonesia-Korea CEPA (IK-CEPA) dan Indonesia-European Free Trade Association (IE-CEPA). Hal itu dibutuhkan agar perjanjian dagang tersebut bisa segera diratifikasi.

Dengan demikian, perjanjian dagang tersebut bisa dipergunakan pelaku usaha untuk mendorong perekonomian nasional. 

"Kalau perjanjian ini tidak segera diratifikasi dan diimplementasikan, tidak akan membawa benefit riil untuk stimulasi ekonomi nasional secara keseluruhan," ujarnya saat dihubungi, Kamis (11/6/2020).

Menurutnya, usaha yang dikeluarkan pemerintah pun bakal lebih kecil dengan mengedepankan perjanjian-perjanjian ini jika dibandingkan harus mengupayakan perundingan yang belum disepakati secara substansial.

Pasalnya, untuk perundingan yang masih berjalan seperti Indonesia-European Union CEPA (IEU-CEPA) dan Indonesia-Turki CEPA (IT-CEPA), Indonesia harus melihat pula kondisi negara mitra.

"Apakah mereka masih punya energi untuk menyelesaikan perundingan dalam kondisi saat ini? Mungkin saja prioritas penyelesaian perundingan tersebut akan terkoreksi karena penanganan Covid-19 yang lebih urgent bagi pemerintahnya," lanjutnya.

Sementara itu, Ketua Umum Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Benny Soetrisno berharap agar Indonesia-EU CEPA dan Indonesia-Turki CEPA dapat segera dirampungkan. Selain pertimbangan pasar yang besar, Benny mengatakan perjanjian dagang dengan Turki sendiri dapat membuka pintu bagi produk-produk Indonesia ke kawasan Eropa Timur dan Afrika.

"Kalau untuk produk ekspor, sejauh ini yang sangat potensial ke sana adalah produk alas kaki, pakaian, dan juga furnitur," kata Benny.

Penyelesaian perundingan dagang dengan Turki sendiri menjadi penting menyusul pemberlakuan bea masuk tambahan pada sekitar 60 produk Indonesia sejak Mei lalu.

Kementerian Perdagangan mencatat tambahan bea masuk berada di kisaran 5 sampai 20 yang meliputi produk besi dan baja, mesin, spare parts, kertas, plastik, dan benang. Turki sendiri memberlakukan pengecualian bea masuk kepada 51 negara yang memiliki perjanjian dagang, di antaranya adalah Singapura, Malaysia, Korea Selatan, dan negara-negara Uni Eropa.

Menyitir data Direktorat Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional (PPI) Kementerian Perdagangan, setidaknya terdapat 8 perundingan perdagangan yang telah rampung dibahas

Perundingan itu di antaranya adalah Indonesia-Australia CEPA (IA-CEPA), Indonesia-Korea CEPA (IK-CEPA), Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA), Indonesia-Pakistan Preferential Trade Agreement (Indonesia-Pakistan PTA), dan Indonesia-Chile CEPA (IC-CEPA).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kemendag kerja sama perdagangan cepa perundingan ieu-cepa
Editor : Yustinus Andri DP
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top