Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Bagaimana Prospek Perkantoran di CBD Jakarta Selama Pandemi?

Terlalu dini jika menyebut kawasan segitiga emas akan ditinggalkan untuk kemudian terjadi relokasi ruang sewa ke luar area pusat niaga.
Ilham Budhiman
Ilham Budhiman - Bisnis.com 03 Juni 2020  |  17:34 WIB
Karyawan beraktivitas di sebuah gedung perkantoran di kawasan Kuningan, Jakarta, Rabu (18/3/2020). - ANTARA FOTO/Wahyu Putro A.
Karyawan beraktivitas di sebuah gedung perkantoran di kawasan Kuningan, Jakarta, Rabu (18/3/2020). - ANTARA FOTO/Wahyu Putro A.

Bisnis.com, JAKARTA — Gedung perkantoran di area pusat bisnis Jakarta atau di segitiga emas Sudirman-Kuningan-SCBD dinilai masih memiliki prospek yang bagus dalam beberapa waktu ke depan.

Meskipun, saat ini banyak penyewa ruang perkantoran di area pusat bisnis (central business district/CBD) Jakarta meminta relaksasi harga sewa karena penggunaan ruang perkantoran tersebut tak maksimal akibat adanya aturan bekerja dari rumah dan bisnis yang terhantam akibat virus corona baru penyebab Covid-19.

Manager Research & Consultancy Coldwell Banker Commercial Angra Angreni mengatakan bahwa terlalu dini jika menyebut kawasan segitiga emas akan ditinggalkan untuk kemudian terjadi relokasi ruang sewa ke luar area pusat niaga.

"Mengenai apakah office di CBD yakni Sudirman-Kuningan-SCBD akan ditinggalkan atau enggaknya, sebetulnya menurut saya pribadi terlalu dini untuk berasumsi demikian karena kondisi uncertainty business terutama karena pandemi ini belum terprediksi," katanya kepada Bisnis, Rabu (3/6/2020).

Selain itu, bila berkaca pada pengalaman sebelumnya, hal tersebut bisa juga dilihat dari jenis bisnis, skala bisnis, serta potensi sektor bisnis yang akan muncul beberapa waktu ke depan. 

Lagi pula, dia mengatakan bahwa pasar perkantoran sebetulnya sudah mengalami perlambatan sejak 2015. Hingga saat ini, pasar perkantoran masih belum bergairah seperti yang terjadi pada 2011—2014, baik dari segi rata-rata penyerapan, tingkat hunian, maupun harga sewa. 

Dalam catatan Coldwell, okupansi ruang sewa perkantoran kelas (grade) A mencapai 76,6 persen selama kuartal I/2020, sedangkan kelas B sebesar 8,24 persen, dan kelas C mencapai 87,8 persen. Covid-19 berdampak besar pada menurunnya aktivitas sewa-menyewa sehubungan tertundanya lease agreement atau mundurnya calon penyewa baru.

"Saat ini, harga masih tertekan, vacancy pun masih tinggi. Nah, dengan adanya pandemi makin memperlambat lagi market perkantoran, leasing activities terhambat," katanya.

Angra menyebutkan bahwa penurunan pasar ruang perkantoran sejak 2015 sebetulnya terjadi seiring dengan menurunnya bisnis komoditas dan migas karena ketiga sektor itu merupakan generator utama permintaan ruang persewaan. 

Namun, beruntungnya sektor perbankan beserta lembaga keuangan masih berkontribusi terhadap pergerakan pasar perkantoran hingga saat ini. Belakangan atau beberapa tahun terakhir, muncul dagang-el, tekfin, dan co-working yang mulai menyerap pasar perkantoran.

"Meskipun kontribusi new players tersebut belum dapat menggantikan sektor komoditas, oil dan gas yang hilang. Nah, ke depannya bukan tidak mungkin pemain baru lainnya akan bermunculan, jika kita berpikir dengan sudut pandang optimistis," katanya.

Kendati begitu, Angra menilai bahwa saat ini ada perbedaan preferensi dalam memilih ruang sewa perkantoran. Jika dulu perusahaan di sektor komoditas dan migas tidak mempersoalkan masalah harga karena mengutamakan kualitas gedung, akan tetapi pemain baru saat ini justru lebih mempertimbangkan bujet.

"Seiring dengan melambatnya kondisi bisnis, pilihan gedung makin banyak, terutama yang berlokasi di segitiga emas, sudah sewajarnya tenant bernego dengan harga karena ketika kondisi rata-rata tingkat hunian gedung secara keseluruhan berada di bawah 85 persen, kondisi tenant market perlu menjadi pertimbangan bagi landowner," katanya. 

Kondisi ini pun, kata dia, membawa kepada sebuah pilihan apakah pemilik harus rela bernego dengan penyewa atau memilih bertahan dan kehilangan penyewa yang merelokasi kantornya ke tempat lain. Lagi pula, para penyewa yang merelokasi bertujuan untuk mencari harga miring sudah terjadi sebelumnya.

"Menurut saya, sektor-sektor bisnis yang sudah establish akan berpikir berkali-kali jika akan melakukan relokasi ke lokasi yang bukan prime karena menyangkut keterkaitannya dengan sektor bisnis lainnya atau yang mendukung bisnisnya tersebut. Misalnya, sektor perbankan tidak akan jauh-jauh dari bursa efek. Belum lagi bisnis-bisnis lainnya yang saling berhubungan atau saling membutuhkan. Banyak hal yang akan menjadi pertimbangan. Selain itu, biaya relokasi juga tinggi," katanya.

Pada intinya, dia memandang bahwa harga sewa tetap akan menjadi isu utama di pasar perkantoran. Adapun, untuk bisnis-bisnis tertentu diperkirakan ada yang keluar dari gedung yang berada di wilayah CBD terutama bisnis yang tidak mengalami kendala dengan metode bekerja dari rumah. "Namun, bukan berarti lokasi strategis alias pusat bisnis akan bergeser."

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perkantoran cbd pandemi corona
Editor : Zufrizal
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top