Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Jauh Dari Target, Permintaan Batu Bara Domestik Hanya 100 Juta Ton

Permintaan batu bara oleh PLN dan juga industri domestik lainnya berpengaruh terhadap serapan dalam negeri serta persentase pemenuhan domestic market obligation (DMO).
Yanita Petriella
Yanita Petriella - Bisnis.com 02 Juni 2020  |  20:00 WIB
Ilustrasi - Aktivitas kontrak pertambangan PT Petrosea Tbk. Anak usaha Indika Energy ini memiliki pengalaman 48 tahun di bidang kontraktor pertambangan. - petrosea.com
Ilustrasi - Aktivitas kontrak pertambangan PT Petrosea Tbk. Anak usaha Indika Energy ini memiliki pengalaman 48 tahun di bidang kontraktor pertambangan. - petrosea.com

Bisnis.com, JAKARTA – Permintaan batu bara domestik diperkirakan hanya mencapai 100 juta ton atau lebih rendah dari target yang ditetapkan pemerintah sebesar 155 juta ton.

Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Baru Bara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia mengatakan situasi pandemi Covid-19 sebagai situasi darurat nasional yang kemudian diikuti dengan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di beberapa daerah membuat penggunaan listrik berkurang yang akhirnya berpengaruh terhadap menurunnya permintaan penggunaan batu bara oleh PLN.

Menurutnya, permintaan PLN dan juga industri domestik lainnya berpengaruh terhadap serapan batubara dalam negeri serta persentase pemenuhan domestic market obligation (DMO).

"Menurut estimasi kami dari beberapa sumber, permintaan batubara domestik menurun drastis yaitu sekitar 100 juta ton yang mana lebih rendah dibandingkan dengan rencana yang ditetapkan Pemerintah yaitu sebesar 155 juta ton," ujarnya kepada Bisnis, Selasa (2/6/2020).

Hendra menuturkan di tengah pandemi Covid-19 ini banyak negara tujuan ekspor batubara yang melakukan sistem lockdown, maka penjualan batu bara dalam negeri yang diprioritaskan menjadi pasar utama bagi para perusahaan produsen batu bara.

Namun memang tidak dipungkiri PLN dan beberapa Independent Power Producer (IPP) menurunkan target permintaan batu bara mereka dan bagi beberapa perusahaan sudah dialami dari pertengahan bulan Maret.

"Hal penurunan permintaan batu bara mereka ditujukan agar PLN sendiri tidak kelebihan pasokan batu bara mereka," katanya.

Sementara untuk harga sendiri perlu ditekankan,  lanjutnya, harga batu bara khusus DMO sebesar US$70 per ton tersebut diberlakukan apabila Harga Batu bara Acuan (HBA) berada di atas level harga khusus tersebut.

Saat ini HBA masih di bawah harga khusus batu bara DMO sehingga perusahaan pun menjual batu bara mereka ke PLN sesuai dengan HBA yang ditetapkan ESDM setiap bulannya.

Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Rizal Kasli memproyeksikan kebutuhan batu bara domestik diperkirakan tak mencapai yang di targetkan tahun ini sebesar 155 juta ton.

Menurutnya, saat ini sangat jelas apabila permintaan akan konsumsi listrik mengalami penurunan di tengah pandemi virus corona (Covid-19), maka konsumsi batu bara pun akan menurun karena bauran sumber energi Nasional terbesar merupakan bahan bakar batubara.

"DMO dapat dipastikan tidak akan tercapai sesuai target," ucapnya.

Perkiraan target DMO yang tak tercapai di tahun ini, selain karena permintaan listrik yang menurun, juga ada beberapa proyek pembangkit yang mundur penyelesaiannya dari yang direncanakan sepanjang 2020

"ini selaras dengan proyeksi GDP Nasional yang diperkirakan hanya 2 persen dari semula 5 persen hingga 6 persen," kata Rizal.

Untuk diketahui, sepanjang tahun ini Kementerian ESDM menargetkan DMO batu bara di tahun ini mencapai 155 juta ton. Adapun, DMO batu bara hingga kuartal I 2020 terdiri atas penyediaan tenaga listrik (PLN) sebesar 25,6 juta ton. Sementara, kebutuhan batubara domestik untuk sektor non kelistrikan umum mencapai 5,93 juta ton

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

PLN batu bara produksi
Editor : David Eka Issetiabudi
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top