Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Meskipun Ada New Normal, Penyerapan Tenaga Kerja Masih Diragukan

Pandemi Covid-19 telah menciptakan kondisi baru di sektor industri, termasuk dalam hal ketenagakerjaan. Begitupun nantinya ketika kondisi kenormalan baru (new normal) berjalan.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 27 Mei 2020  |  17:55 WIB
Sejumlah pekerja berjalan usai bekerja dengan latar belakang gedung perkantoran di Jl. Jenderal Sudirman, Jakarta, Kamis (16/4/2020). Pemprov DKI Jakarta akan memberikan sanksi berupa mencabut perizinan kepada perusahaan yang tetap beroperasi di masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) kecuali delapan sektor yang memang diizinkan. - ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay
Sejumlah pekerja berjalan usai bekerja dengan latar belakang gedung perkantoran di Jl. Jenderal Sudirman, Jakarta, Kamis (16/4/2020). Pemprov DKI Jakarta akan memberikan sanksi berupa mencabut perizinan kepada perusahaan yang tetap beroperasi di masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) kecuali delapan sektor yang memang diizinkan. - ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

Bisnis.com, JAKARTA – Pandemi Covid-19 telah memukul berbagai lini usaha dan berimbas pada pemberhentian jutaan tenaga kerja dari profesinya. Namun demikian, dengan adanya kenormalan baru (new normal) penyerapan tenaga kerja belum tentu akan kembal seperti semula.

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Ketenagakerjaan dan Hubungan Industrial Anton J. Supit mengatakan, kenormalan baru bakal makin mendorong pergeseran pada penyerapan tenaga kerja. Bahkan sebelum pandemi terjadi, manpower planning atau proses perencanaan tenaga kerja telah terdisrupsi dengan adanya digitalisasi.

Anton memperkirakan hal ini akan terus berlanjut bahkan saat kenormalan baru diterapkan dalam roda perekonomian. Berkurangnya aksi rekrutmen menjadi hal yang tak terhindari mengingat kegiatan produksi yang turut terkoreksi dan jenis pekerjaan yang berubah.

"Tenaga kerja tetap akan diperlukan, karena tidak bisa sepenuhnya digitalisasi. Tapi memang akan sulit penyerapannya karena perlu diketahui new jobs selama kenormalan baru ini apa saja," kata Anton kepada Bisnis, Rabu (27/5/2020).

Kendati demikian, Anton memperkirakan terdapat sejumlah sektor yang masih tetap bisa menyerap tenaga kerja seperti sektor pertanian dan perikanan. Selain itu, industri manufaktur pun disebutnya masih memerlukan sumber daya manusia meski tidak setinggi pada masa sebelum pandemi.

Menurut Anton, seiring makin ketatnya persaingan lapangan kerja, maka kebutuhan akan pendidikan vokasi guna meningkatkan kualitas pekerja menjadi penting.

Oleh karena itu, dia mengharapkan dunia usaha dan pemerintah dapat menciptakan sistem ketenagakerjaan yang menghasilkan pekerja dengan keterampilan dan produktivitas tinggi.

Dalam hal ini, Kementerian Perindustrian, Kementerian Ketenagakerjaan, dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan disebutnya perlu berkoordinasi dan berkolaborasi untuk menhasilkan perencanaan ketenagakerjaan yang matang. 

"Misalnya manpower planning sudah disiapkan dan disesuaikan dengan potensi daerah masing-masing, jadi di daerah yang kaya potensi perikanan seperti di Maluku dibangun sekolah vokasi perikanan," ujar Anton.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

tenaga kerja lapangan kerja New Normal
Editor : Yustinus Andri DP
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top