Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Chatib Basri: Saya Tidak Terkejut Jika Defisit Fiskal Naik Lagi

Mantan Menteri Keuangan Chatib Basri menyebut kebutuhan anggaran untuk penanganan Covid - 19 serta untuk mendorong pertumbuhan dunia usaha, dapat berubah sewaktu-waktu tergantung kebutuhan.
Edi Suwiknyo
Edi Suwiknyo - Bisnis.com 19 Mei 2020  |  13:30 WIB
Pengamat Ekonomi M. Chatib Basri. - FB Sri Mulyani
Pengamat Ekonomi M. Chatib Basri. - FB Sri Mulyani

Bisnis.com, JAKARTA - Mantan Menteri Keuangan Chatib Basri menyebut kebutuhan anggaran untuk penanganan Covid - 19 serta untuk mendorong pertumbuhan dunia usaha, dapat berubah sewaktu-waktu tergantung kebutuhan.

Dengan kebutuhan anggaran yang berubah-ubah, Chatib tak terkejut jika defisit fiskal yang kemarin dipasang di atas 6 persen dari produk domestik bruto (PDB) bisa saja melebar dari angka yang telah ditetapkan.

"Sekarang 6%, saya tidak akan terkejut kalau naik lagi karena kebutuhan," kata Chatib dalam Webinar Kanopi:Through Covid - 19 and Beyond, Selasa (19/5/2020).

Chatib justru menyoroti pihak-pihak yang menganggap jalan melebarkan defisit akan membahayakan pengelolaan fiskal. Dia tak menampik, sebagai mantan Menkeu dia selalu mengharapkan pengelolaan fiskal selalu prudent.

Namun dengan kondisi pandemi seperti saat ini yang diperparah dengan aktivitas ekonomi mulai melambat, menurut Chatib, pemerintah mau tak mau harus menyedikan dana untuk mendukung pengentasan masalah kesehatan, proteksi sosial, dan mendukung aktivitas dunia usaha.

Apalagi pemerintah saat ini juga tak dituntut bertindak cepat, sementara sumber data yang dimiliki terkadang saling bertentangan. Kondisi inilah yang menurutnya menyulitkan pemerintah dalam menentukan dosis kebijakan yang pas.

"Jadi tema fiskalnya adalah whatever it takes. Sejauh ini berdasarkan penjelasan, pemerintah telah sangat prepare, bahkan kalau ada perpanjangan proteksinya itu ada," jelasnya.

Seperti diketahui Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyampaikan defisit anggaran pada 2020 diproyeksikan mencapai 6,27% dari PDB, lebih lebar dari defisit pada Perpres No. 54/2020 yang mencapai 5,07% dari PDB. Dengan ini, nominal defisit anggaran meningkat dari Rp852,9 triliun menjadi Rp1.028,5 triliun.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

apbn chatib basri sri mulyani defisit anggaran covid-19
Editor : Ropesta Sitorus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

Foto loadmore

BisnisRegional

To top