Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Output Industri China Meningkat, Konsumen Masih Waspada

Aktivitas industri di China meningkat pada bulan April untuk pertama kalinya sejak wabah virus corona, sekaligus menambah tanda-tanda awal pemulihan yang diperingatkan para ekonom akan lambat dan menantang.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 15 Mei 2020  |  13:58 WIB
Pabrik Hyundai, industri otomotif Korea Selatan, di Beijing, China./Bloomberg - Tomohiro Ohsumi
Pabrik Hyundai, industri otomotif Korea Selatan, di Beijing, China./Bloomberg - Tomohiro Ohsumi

Bisnis.com, JAKARTA – Aktivitas industri di China meningkat pada bulan April untuk pertama kalinya sejak wabah virus corona, sekaligus menambah tanda-tanda awal pemulihan yang diperingatkan para ekonom akan lambat dan menantang.

Dilansir dari Bloomberg, National Burreau of Statistics (NBS) mencatat output industri menguat 3,9 persen pada April dibandingkan bulan yang sama tahun sebelumnya, melonjak dibandingkan bulan Maret yang mencatatkan penurunan 1,1 persen.

Sementara itu, investasi aset tetap turun 10,3 pada periode Januari-April 2020, lebih rendah dibandingkan periode Januari-Maret yang turun hingga 16,1 persen. Penjualan ritel turun 7,5 persen, lebih dalam dibandingkan proyeksi sebesar 6 persen, sedangkan pengangguran perkotaan yang disurvei, yang tidak mencakup semua tenaga kerja, naik menjadi 6,0 persen dari 5,9 persen pada Maret.

Peningkatan aktivitas industri mengisyaratkan bahwa upaya stimulus pemerintah memlau membuahkan hasil, meskipun belum cukup jika dibandingkan dengan negara lain. Dengan upaya terus-menerus untuk memulihkan produksi dan langkah-langkah penanggulangan virus secara bertahap, tingkat kembalinya pekerja naik menjadi sekitar 95 persen pada pertengahan April.

Output industri perusahaan swasta naik 7 persen pada bulan April, lebih tinggi dari jenis perusahaan lain termasuk BUMN dan perusahaan asing.

"Data ini sejalan dengan tren keseluruhan bahwa pasokan lebih kuat dari permintaan dan pemulihan terutama didorong oleh pasokan," kata Larry Hu, Kepala Ekonom China di Macquarie Group Ltd., seperti dikutip Bloomberg.

Investasi yang diinisiasi pemerintah, terutama proyek infrastruktur dan yang disebut inisiatif 'infrastruktur baru' yang berfokus pada teknologi, mendapat dorongan ketika Beijing menggenjot dukungan kebijakan dan keuangan.

Di sisi lain, investasi sektor swasta terus terkontraksi lebih cepat dari investasi pemerintah, menyusut 13,3 persen dalam empat bulan pertama tahun ini.

“Terlepas dari perbaikan, ekonomi China belum kembali ke tingkat normal," ungkap Liu Aihua, seorang juru bicara NBS dalam konferensi pers. “Ada efek permintaan yang tertekan dari peningkatan data tersebut.”

Sementara itu, penjualan ritel masih lemah di bulan April, yang menandai lesunya permintaan domestik. Data ritel menggarisbawahi kehati-hatian yang masyarakat terhadap langkah-langkah untuk membuka kembali perekonomian negara.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

konsumsi ekonomi china manufaktur china

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top