Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kadin Berharap Manufaktur Membaik Bulan Depan

Wakil Ketua Umum Bidang Perindustrian Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Johnny Darmawan mengatakan dengan PMI April sudah di level 27,5 bukan tidak mungkin industri dihadapakan level yang lebih rendah.
Ipak Ayu H Nurcaya
Ipak Ayu H Nurcaya - Bisnis.com 04 Mei 2020  |  20:32 WIB
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi B. Sukamdani (kiri), berdiskusi dengan Ketua bidang Industri Manufaktur Apindo Johnny Darmawan, di sela-sela Public Policy Discussion, di Jakarta, Rabu (21/6). - JIBI/Dwi Prasetya
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi B. Sukamdani (kiri), berdiskusi dengan Ketua bidang Industri Manufaktur Apindo Johnny Darmawan, di sela-sela Public Policy Discussion, di Jakarta, Rabu (21/6). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA — Pelaku industri berharap awan hitam manufaktur di Tanah Air mulai pulih pada Juni dengan asumsi penyebaran virus corona (Covid-19) menurun.

Wakil Ketua Umum Bidang Perindustrian Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Johnny Darmawan mengatakan dengan PMI April sudah di level 27,5 bukan tidak mungkin industri dihadapakan level yang lebih rendah. Menurutnya, hal ini cukup masuk akal mengingat usai PSBB Jakarta pada 22 Mei akan dilanjutkan periode libur Lebaran.

"Jadi Mei bisa tambah parah, karena sekarang kalau mau direlaksasi untuk membuka kegiatan ekonomi lagi syaratnya data kasus Covid-19 harus mulai landai dahulu seperti negara lain kemudian baru bisa mengharapkan pelonggaran untuk paling tidak orang mulai beraktivitas ke luar dan bekerja," katanya kepada Bisnis, Senin (4/5/2020).

Johnny mengemukakan dalam kondisi saat ini yang paling bisa dilakukan adalah menambah anggaran sebagai bantalan perekonomian ke depan usai wabah selesai. Menurutnya, masih sesuai usulan Kadin, dunia usaha berharap pemerintah mau menggelontorkan dana Rp1.600 triliun.

Dana itu akan dibagi dalam tiga kelompok, yakni untuk bantuan langsung senilai Rp400 triliun, untuk untuk stimulus UMKM Rp600 triliun, dan untuk keringanan pembiayaan perbankan atau sejenisnya senilai Rp600 triliun.

"Dengan adanya dana itu bisnis tidak akan hancur sehingga ketika industri bersiap naik kembali semua sudah siap," ujarnya.

Terpisah, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyebut penurunan permintaan di dalam negeri menyebabkan reaksi berantai ke struktur industri nasional. Pasalnya, pihaknya mendata sekitar 70 persen hasil produksi sektor manufaktur diserap oleh pasar lokal.

"Ketika daya beli masyarakat tertekan atau tidak ada demand, secara otomatis perusahaan industri harus melakukan penyesuaian, termasuk penurunan drastis utilitasnya," katanya kepada Bisnis, Senin (4/5/2020).

Agus menambahkan hal tersebut juga akan berdampak pada ketersediaan dan serapan hasil produksi industri hulu. Agus berpendapat salah satu negara yang memiliki struktur industri yang mirip dengan Indonesia adalah India.

Agus mencatat pergerakan PMI India serupa dengan Indonesia. Melansir data IHS Markit, PMI India masih stabil pada Februari-Maret 2020 di atas level 51,0. Namun demikian, PMI India langsung anjlok pada April 2020 ke level 27,4.

Agus menilai alasan penurunan PMI India serupa dengan Indonesia, yakni penurunan daya beli masyarakat. Selain penurunan daya beli, lanjutnya, melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat juga menambah tekanan pada indeks PMI April 2020.

"Logika sederhananya adalah dalam kondisi normal PMI kita di sekitar angka 50,0. Jika utilitas turun sampai di bawah 50 persen, maka angka PMI di sekitar 25,0. [Selain itu,] input manufaktur kita 74 persen impor dan dengan tambahan tekanan kurs, maka beban input meningkat, akibatnya output menurun signifikan," jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

industri kadin Virus Corona indeks manufaktur
Editor : David Eka Issetiabudi
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top