Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Skenario Terburuk, Industri Manufaktur Diproyeksi Hanya Tumbuh 0,8 Persen

Ada dua skenario pertumbuhan kinerja industri manufaktur dengan mempertimbangkan dampak virus corona.
Ipak Ayu H Nurcaya
Ipak Ayu H Nurcaya - Bisnis.com 22 April 2020  |  11:44 WIB
Suasana di salah satu pabrik perakitan motor di Jakarta, Rabu (1/8/2018). Bisnis - Abdullah Azzam
Suasana di salah satu pabrik perakitan motor di Jakarta, Rabu (1/8/2018). Bisnis - Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA — Pertumbuhan kinerja industri manufaktur diperkirakan bakal tumbuh di bawah 1 persen dengan skenario terburuk pertumbuhan ekonomi 0,5 persen akibat tekanan virus corona atau Covid-19.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyebut jika covid-19 semakin memburuk dan menekan perekonomian maka proyeksi pertumbuhan manufaktur hanya akan berkisar 0,7-0,8 persen. Di sisi lain, dengan skenario pertumbuhan ekonomi 2,4 persen, maka kinerja manufaktur juga mendapat porsi berbeda.

"Jika sesuai hal itu barangkali manufaktur bisa tumbuh 2,5-2,6 persen tetapi jika Covid-19 memburuk dan PE pada skenario 0,5 persen maka penyesuaian pertumbuhan industri 0,7-0,8 persen," katanya, Selasa (21/4/2020).

Adapun angka itu jauh dari prediksi awal tahun sebelum adanya pandemi Covid-19. Kala itu Agus optimistis industri Tanah Air dapat melaju pada kisaran 5,3 persen.

Menurutnya, sesuai dengan PMI sampai Februari manufaktur juga masih menunjukkan geliat yang baik. Hal itu pun tercermin dari realisasi kontribusi ekspor manufaktur yakni 78,96 persen dari seluruh sektor.

Kinerja pengapalan sektor manufaktur nasional pada tiga bulan pertama tahun ini meningkat 10,11 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Sepanjang kuartal I/2020, ekspor dari industri pengolahan menembus angka US$32,99 miliar, sedangkan nilai impornya tercatat sekitar US$31,29 miliar.

"Jadi ada surplus sebesar US$1,7 miliar. Bahkan, ekspor industri pengolahan pada kuartal I/2020 memberikan kontribusi signfikan hingga 78,96 persen terhadap total ekspor nasional yang mencapai US$41,78 miliar,” tuturnya.

Adapun lima sektor sebagai penyumbang terbesar yaitu industri makanan yang membukukan senilai US$7,17 miliar, industri logam dasar US$5,48 miliar, industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia US$2,99 miliar, industri pakaian jadi US$2,02 miliar, serta industri karet, barang dari karet dan plastik US$1,78 miliar.

“Kami melihat bahwa terjadi shifting pertumbuhan ekspor yang awalnya didorong oleh CPO dan produk hilirnya serta tekstil pada 2019 dan pada kuartal I/2020 khususnya Maret ini, kedua komoditas tersebut tergantikan oleh besi baja termasuk logam mulia, serta kertas dan permesinan,” ujar Agus.

Pertumbuhan ekspor yang tinggi dari komoditas besi baja, didorong oleh perusahaan di Kawasan Industri Morowali dengan tujuan pasar utamanya ke China dan beberapa negara lainnya. Meski demikian, komposisi nominal ekspor terbesarnya masih ditempati oleh CPO dan produk hilirnya, serta tekstil dan alas kaki.

"Sayangnya kondisi yang sedang baik-baiknya ini harus dihadapkan pada covid-19 tetapi tidak apa-apa kita hadapi bersama, Insha Allah kita menang," kata Agus.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

manufaktur kinerja Virus Corona
Editor : David Eka Issetiabudi
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top