Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Gara-Gara Covid-19, Tren Positif Pengembangan PLTS Terhenti

Ada pembangunan PLTS atap untuk komersial dan industri mencapai lebih dari 200 Mega Watt (MW) hingga 300 MW.
Yanita Petriella
Yanita Petriella - Bisnis.com 21 April 2020  |  13:42 WIB
Petugas memeriksa panel surya di PLTS Gili Trawangan -  Bisnis / David E. Issetiabudi
Petugas memeriksa panel surya di PLTS Gili Trawangan - Bisnis / David E. Issetiabudi

Bisnis.com, JAKARTA - Pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di awal 2020 atau sebelum pandemi virus corona (Covid-19) menunjukkan tren yang cukup positif.

Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa mengatakan prospek PLTS di awal 2020 cukup positif dimana diperkirakan PLTS atap untuk komersial dan industri mencapai lebih dari 200 Mega Watt (MW) hingga 300 MW. Hal itu berubah setelah pandemi virus corona. 

Untuk PLTS atap skala kecil di wilayah Jabodetabek, Banten, Bali, Jawa Tengah dab jawa Timur juga masih memiliki potensi yang cukup tinggi.

Selain itu, saat ini ada integrasi PLTS atap dengan real estate menengah ke atas dimana menjual rumah dengan PLTS atap yang bervariasi kapasitasnya sejak 2018.

"PLTS atap bagian gaya hidup yang dijual real estate. Pengusaha multinasional juga berkomitmen untuk penggunaan listrik dari energi terbarukan," ujarnya, Selasa (21/4/2020).

Peningkatan penggunaan PLTS atap juga dikarenakan adanya proyek APBN pemasangan PLTS atap oleh Kementerian ESDM di 800 titik dengan total anggaran sebesar Rp175 miliar.

"Sinergi BUMN ada beberapa rencana pemasangan PLTS atap di bandara, fasilitas publik seperti pelabuhan, terminal, dan pemanfaatan PLTS di lokasi bekas tambang. Lalu ada program pemerintah daerah mendorong PLTS atap untuk lampu penerangan jalan," katanya.

Pada Januari 2020, lanjut Fabby, untuk skala besar PLN melakukan penandatanganan kontrak dengan Masdar untuk proyek floating PV (FPV) di Cirata sebesar 145 MW dengan harga US$0,058 per kWh.

"Ini akan diesekusi di tahun depan kontraknya PLN. Lalu ada rencana lelang 4 proyek PLTS dengan total kapasitas 120 MW," ucapnya.

Dia menambahkan pengembangan PLTS atap mulai menunjukkan tren positif sejak 2019. Total kapasitas PLTS atap yang terpasang  di akhir 2019 mencapai 152 MW.

Penambahan kapasitas di tahun 2019 itu berasal dari tiga PLTS di Lombok yang telah commissioned yang masing-masing kapasitasnya 7 MW. Lalu satu PLTS berkapasitas 21 MW di Likupang Sulawesi Utara.

"Kedua proyek PLTS ini cukup lama direncanakan dan dijalankan sejak 2018 dan akhirnya commission," ujarnya.

Akhir tahun lalu, lanjutnya, ada tender PLTS di Bali Barat dan Bali Timur yang kapasitasnya 2 X 25 MW dengan harga di bawah US$0,059 per kWh (kilo Watt hour).

"Ini cukup menarik.Harga untuk PLTS skala besar Bali Timur turun lebih dari 40 persen. PLTS skala besar sudah mulai kompetitif dibanding dengan 1 tahun hingga 2 tahun sebelumnya," katanya.

Untuk PLTS atap atau on Grid ada peningkatan minat di 2019 dimana sepanjang tahun lalu terdapat 1.580 pemasangan PLTS atap dibandingkan dengan tahun 2018 yang hanya 300 pelanggan PLTS atap.

"Naiknya cukup tinggi. Minat meningkat pada pelanggan rumah tangga, bisnis dan komersial, terutama setelah revisi Permen 49 tahun 2018," tuturnya.

Walaupun memang dalam perjalanannya minat pemasangan PLTS atap cukup tinggi, namun ada kendala meter-exim untuk pemasok PLTS atap rumah.

"Dalam aturan menteri ESDM, dimana menjual listriknya ke PLN, ini harus menunggu cukup lama untuk bisa dapet kWh exim selama 2 bulan hingga 4 bulan. Ini mempersulit mereka yang ingin memasang PLTS atap," terangnya.

Menurutnya, yang diperlukan saat ini juga terkait kebutuhan akan informasi mengenai prosedur penyambungan dan biaya serta trusted provider menjadi faktor penentu keputusan pematangan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

energi terbarukan plts
Editor : David Eka Issetiabudi
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top