Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pasar Alas Kaki Susut, Berkah Lebaran Terancam Menguap

Asosiasi Persepatuan Indonesia (Asprisindo) mendata pabrikan alas kaki umumnya menggenjot kapasitas produksi hingga dua kali lipat dari bulan biasa sebelum Ramadan.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 24 Maret 2020  |  09:09 WIB
Pekerja menyelesaikan pembuatan sandal dan sepatu di PT Aggiomultimex, Sidoarjo, Jawa Timur, Senin (25/9). - ANTARA/Umarul Faruq
Pekerja menyelesaikan pembuatan sandal dan sepatu di PT Aggiomultimex, Sidoarjo, Jawa Timur, Senin (25/9). - ANTARA/Umarul Faruq

Bisnis.com, JAKARTA – Pelaku bisnis alas kaki khawatir penyebaran wabah virus corona atau Covid-19 berdampak penyusutan pasar di dalam maupun luar negeri.

Asosiasi Persepatuan Indonesia (Asprisindo) mendata pabrikan alas kaki umumnya menggenjot kapasitas produksi hingga dua kali lipat dari bulan sebelum Ramadan.

Namun demikian, asosiasi mencatat utilitas produksi sebagain pabrikan justru merosot 20-30 persen akibat Covid-19.

"Sekarang masalahnya bukan pada produksi, tapi karena pasar lebaran akan lesu. [Utilitas pabrikan saat ini] bisa di kisara 75 persen, tapi dengan kondisi penghentian permintaan domestik masih belum dihitung," ujar Direktur Eksekutif Asprisindo Firman Bakrie saat dihubungi Bisnis, Selasa (23/3/2020).

Sebelumnya, Firman menyebut gudang industri telah dipenuhi produk dari penundaan pengiriman oleh pembeli di pasar global. Saat ini, lanjutnya, pasokan di gudang ditambah dengan pembatalan pesanan oleh peritel besar nasional.

Menurutnya, hal tersebut disebabkan oleh penyebaran Covid-19 yang diprediksi akan berlanjut hingga Idul Fitri tahun ini. Berdasarkan prediksi tersebut, ujarnya, peritel membatalkan pesanan lantaran serapan di pasar dinilai akan melemah.

Terpisah, Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen (APSyFI) meramalkan pasar domestik TPT akan terkontraksi sekitar 20 persen secara tahunan menjadi sekitar 1,7 juta ton. Dengan kata lain, konsumsi TPT per kapita akan turun dari 8,27 kilogram per kapita menjadi  6,6 kilogram per kapita.

"Ini sebetulnya pasar [domestik] yang harus diproteksi pemerintah. Kalai bisa 100 persen [industri hilir] diisi oleh [bahan baku] produksi lokal," ujar Sekretaris Jenderal APSyFI Redma Wirawasta.

Adapun, APSyFI dan Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) mengajukan agar adanya intervensi pemerintah dalam penetapan safeguard terhadap produk garmen. Selain itu, asosiasi juga berharap adanya pengetatan importasi produk TPT ke dalam negeri.

Redma menambahkan proteksi pasar terebut juga harus diikuti dengan insentif pemerintah yang dapat nafas arus kas pabrikan TPT. Pasalnya, ujarnya, penundaan maupun pembatalan pesanan oleh buyer membuat perputaran arus kas pabrikan TPT tersendat.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

alas kaki Ramadan Virus Corona
Editor : David Eka Issetiabudi
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top