Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

KABAR BAIK! Lepas dari Covid-19, China Perkirakan Pemulihan Pertumbuhan

Pemerintah China memperkirakan rebound dalam kegiatan ekonomi setelah tekanan akibat penyebaran virus corona (Covid-19) di Negeri Panda tersebut mulai mereda.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 23 Maret 2020  |  11:15 WIB
Warga menggunakan masker saat berjalan melewati toko-toko di Nanjing Road di Shanghai, China, Sabtu (14/3/2020). Bloomberg - Qilai Shen
Warga menggunakan masker saat berjalan melewati toko-toko di Nanjing Road di Shanghai, China, Sabtu (14/3/2020). Bloomberg - Qilai Shen

Bisnis.com, JAKARTA – Pemerintah China memperkirakan rebound dalam kegiatan ekonomi setelah tekanan akibat penyebaran virus corona (Covid-19) di Negeri Panda tersebut mulai mereda.

Prospek ini bahkan dikemukakan ketika ekonomi global semakin terdorong ke jurang resesi akibat makin banyak negara yang menutup akses untuk mengekang penyebaran virus ini.

Sejak hari Jumat, Perdana Menteri China Li Keqiang dan seorang pejabat senior bank sentral beralasan bahwa optimisme terhadap outlook ekonomi China saat ini didasarkan oleh mulai terkendalinya wabah Covid-19 dan dimulainya kembali kegiatan ekonomi.

Pada saat yang sama, negara ini menghadapi risiko kehilangan tenaga kerja dan merosotnya permintaan eksternal karena sejumlah negara tujuan ekspor seperti AS, Inggris, dan Uni Eropa memperketat pembatasan manusia karena jumlah infeksi dan korban jiwa akibat Covid-19 terue meningkat.

Ekonom memeperkirakan China mencatat pertumbuhan paling lambat sejak akhir era Mao silam..

"Indikator ekonomi kemungkinan akan menunjukkan peningkatan yang signifikan pada kuartal kedua dan ekonomi China akan kembali ke level potensialnya dengan cepat," kata Wakil Gubernur People’s Bank of China (PBOC) Chen Yulu, seperti dikutip Bloomberg.

Berhenti Total

Chen memberi isyarat bahwa pemerintah akan melanjutkan kebijakan stimulus yang moderat saat ini, termasuk penyesuaian kebijakan pajak, pemangkasan suku bunga, penurunan suku bunga pinjaman, serta likuiditas ekstra.

Langkah China ini sangat kontras dengan kebijakan yang diberlakukan di AS dan Eropa berupa likuiditas tambahan hingga triliunan dolar dan pemotongan suku bunga acuan secara tajam.

Pada hari Jumat, Perdana Menteri Li Keqiang mengatakan pemerintah akan "mengoptimalkan" kebijakan untuk membantu rebound ekonomi dan memastikan stabilnya tingkat tenaga kerja. Ia sebelumnya mengatakan bahwa sebagian besar China sekarang "berisiko rendah" dari virus dan aktivitas ekonomi akan berangsur normal.

Memang ada bukti bahwa pabrik dan tempat kerja kembali normal, dengan Bloomberg Economics memperkirakan bahwa 85 persen aktivitas telah kembali kecuali di termasuk pusat wabah di provinsi Hubei.

Analis Bloomberg Economics David Qu mengatakan penduduk China akan kembali mulai bekerja meskipun pada laju yang lebih lambat karena sektor industri masih belum normal.

“Fokusnya sekarang pada industri tersier dan perusahaan manufaktur yang lebih kecil. Bagaimanapun juga, sisi permintaan dapat menjadi kendala, terutama untuk sektor jasa,” ungkapnya.

Sementara itu, data Kementerian Perdagangan China menunjukkan nyaris 70 persen dari perusahaan ekspor dan impor utama telah kembali bekerja dengan kapasitas produksi di atas 70 persen. Namun, kembalinya aktivitas ini dibarengi dengan anjloknya permintaan besar yang datang dari negara-negara maju yang saat ini menutup diri karena wabah Covid-19.

Sektor Jasa Melemah

Tingkat pemulihan aktivitas di sektor jasa seperti restoran dan hotel berada di level 60 persen, berdasarkan data Kementerian Perdagangan, lebih rendah dari sektor industri.

Berdasarkan data Bloomberg, hampir setengah dari perusahaan konsumen yang terdaftar di China tidak memiliki cukup modal untuk bertahan enam bulan lagi, karena sejumlah usaha seperti restoran berada dalam kondisi terburuk karena wabah Covid-19 memaksa konsumen tetap di rumah.

Namun, saat ini belum ada kejelasan apakah upaya Beijing cukup kuat untuk menyelamatkan bisnis kecil di China yang membentuk tulang punggung ketenagakerjaan. Li mengatakan bahwa pemerintah akan melakukan "segala upaya" untuk memastikan kelangsungan hidup perusahaan-perusahaan tersebut.

Di antara langkah-langkah yang telah diumumkan untuk membantu perusahaan-perusahaan kecil, bank sentral akan memberikan total 500 miliar yuan (US$70 miliar) kepada bank untuk menyalurkan memberikan pinjaman dengan bunga rendah dan memperpanjang tanggal jatuh tempo pinjaman.

Selain itu, pajak, jaminan sosial, dan pembayaran asuransi untuk pengangguran akan diturunkan. Pemerintah juga akan menyediakan bantuan untuk pembayaran sewa.

Kekhawatiran Stimulus

Di sisi lain, bank sentral masih waspada terhadap kembalinya suntikan moneter dan fiskal besar-besaran yang terjadi setelah krisis keuangan global karena dapat menyebabkan lonjakan hutang.

Namun, jika pengangguran terus meningkat dari 6,2 persen pada bulan Februari, akan lebih baik bagi pemerintah agar mereka tidak menahan diri untuk memberikan stimulus lebih lanjut.

Untuk saat ini, ekonom telah memangkas perkiraan pertmbuhan ekonomi sejak rilis data pekan lalu yang menunjukkan anjloknya aktivitas ekonomi pada Januari dan Februari. Median perkiraan pertumbuhan tahun ini ada pada level 3 persen, terendah sejak 1976.

Kepala Ekonom China di UBS AG, Wang Tao, mengatakan lebih banyak dukungan kebijakan akan diluncurkan dalam beberapa pekan dan bulan mendatang, termasuk tambahan pengeluaran untuk kesehatan dan investasi infrastruktur.

"Bahkan lebih banyak langkah kebijakan dapat menyusul karena prospek pertumbuhan global semakin memburuk," tulisnya.

Namun, Tao ragu bahwa serangkaian stimulus kebijakan tersebut dapat membuat pertumbuhan China naik melampaui level 5 persen.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekonomi china
Editor : Hafiyyan
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top