Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Infrastruktur Air yang Buruk Berisiko Lebih Besar dari Virus Corona

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan bahwa infrastruktur air yang tidak baik membuat banyak negara dalam risiko yang lebih buruk dari krisis virus corona atau COVID-19.
Syaiful Millah
Syaiful Millah - Bisnis.com 23 Maret 2020  |  07:10 WIB
Bendungan Lolak di Sulawesi Utara dengan posisi progres pembangunannya mencapai 46% pada Rabu (15/11/2017). - Istimewa/Kementerian PUPR
Bendungan Lolak di Sulawesi Utara dengan posisi progres pembangunannya mencapai 46% pada Rabu (15/11/2017). - Istimewa/Kementerian PUPR

Bisnis.com, JAKARTA – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan bahwa infrastruktur air yang tidak baik membuat banyak negara dalam risiko yang lebih buruk dari krisis virus corona atau COVID-19.

Laporan United Nations World Water Development yang diterbitkan kemarin dalam rangka memperingati Hari Air Sedunia yakni pada 22 Maret, menyebut bahwa adanya kekurangan dana infrastruktur air di seluruh dunia, dengan lebih dari setengah populasi global kekurangan akses ke sanitasi yang baik.

Sebagaimana diketahui, kebersihan yang baik seperti ketersediaan air dan sabun adalah garis pertahanan pertama melawan virus corona dan sejumlah besar penyakit lainnya.

Namun, dilaporkan bahwa tiga per empat rumah tangga di negara berkembang tidak memiliki akses ke tempat untuk mencuci dengan sabun dan air. Sepertiga dari fasilitas perawatan kesehatan di negara-negara berkembang juga kekurangan akses air bersih di lokasi.

Richard Connor, pemimpin laporan itu mengatakan bahwa air sering diabaikan terkait pengeluaran dan investasi karena manfaat ekonominya tidak terlalu diperhatikan. Padahal hal tersebut sangat penting untuk menunjang kesehatan.

“Salah satu alasan yang mendasari kesenjangan invesatasi dalam air dan sanitasi adalah bahwa layanan ini dianggap sebagai masalah sosial dan lingkungan, bukan masalah ekonomi, seperti enegi,” katanya seperti dikutip The Guardian, Senin (23/3).

Dia melanjutkan alasan lain dari pengabaian persoalan air dan sanitasi adalah karena masyarakat pada umumnya rela membayar air yang masuk ke rumah mereka, tetapi tidak untuk pemeriksaan dan perawatan setelahnya.

Maksudnya, mayoritas orang tidak memikirkan persoalan air yang telah mereka gunakan setelah kegiatan harian. Padahal, pengolahan limbah memiliki biaya yang lebih mahal daripada pengelolaan sumber airnya sendiri.

“Jadi, tanpa kesediaan untuk membayar, itu akan jadi urusan pemerintah. Lalu kembali lagi, karena pengelolaan limah air tidak memiliki nilai ekonomi, kemauan politik di balik pengeluaran tersebut rendah,” ujar Connor.

Kendati begitu, peningkatan akses air dan sanitasi yang baik memiliki manfaat yang jelas, termasuk dalam krisis kesehatan seperti COVID-19 yang sedang terjadi sekarang ini di seluruh penjuru dunia.

Connor mengutip bukti yang menunjukkan bahwa pengembalian investasi terkait air dan sanitasi justru bisa tinggi ketika manfaat ekonomi makro diperhitungkan, dengan rasio manfaat rata-rata global sebesar 5,5 untuk sanitasi dan 2 untuk air minum yang lebih baik.

PBB juga melaporkan bahwa pengguaan air telah meningkat enam kali lipat dibandingkan satu abad yang lalu, dan meningkat sekitar 1 persen setiap tahunnya karena peningkatan jumlah populasi. Sementara, kerusakan iklim yang terjadi telah menekan pasokan air bersih di berbagai belahan dunia.

Untuk itu, PBB menyarankan untuk meningkatkan pemahaman yang lebih baik tentang hubungan antara air, infrastruktur, dan krisis iklim yang terjadi sehingga bisa mendorong munculnya investasi di bidang pengelolaan air dan sanitasi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

air
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top