Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Catat! Ini Syarat Industri Padat Karya untuk Dapat Investment Allowance

Pemerintah akhirnya mengeluarkan aturan turunan dari investment allowance yang memungkinkan pengusaha di industri padat karya untuk mengurangkan penghasilan netonya sebesar 60% dari jumlah penanaman modalnya berupa aktiva tetap berwujud termasuk tanah selama 6 tahun.
Muhamad Wildan
Muhamad Wildan - Bisnis.com 17 Maret 2020  |  12:42 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Investor pada sektor industri padat karya harus memenuhi beberapa persyaratan agar bisa menikmati fasilitas investment allowance.

Seperti diketahui, pemerintah akhirnya mengeluarkan aturan turunan dari investment allowance yang memungkinkan pengusaha di industri padat karya untuk mengurangkan penghasilan netonya sebesar 60% dari jumlah penanaman modalnya berupa aktiva tetap berwujud termasuk tanah selama 6 tahun. Aturan turunan ini adalah Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No. 19/2020.

Industri padat karya yang bisa mendapatkan fasilitas ini adalah WP badan dalam negeri, melakukan kegiatan usaha sesuai dengan 45 kegiatan yang terlampir dalam PMK No. 19/2020, dan harus mempekerjakan tenaga kerja Indonesia secara rata-rata sebanyak 300 orang dalam satu tahun pajak.

Penanaman modal berupa aktiva tetap berwujud termasuk tanah bisa dijadikan sebagai pengurang dari penghasilan neto apabila aktiva tetap tersebut diperoleh dalam keadaan baru, kecuali merupakan relokasi penanaman modal dari negara lain.

Kedua, aktiva tetap berwujud termasuk tanah ini harus tercantum dalam izin prinsip, izin investasi, dan pendaftaran penanaman modal yang diterbikan oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) atau Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) daerah setempat atau izin ysaha yang diterbitkan oleh OSS.

Ketiga, aktiva tetap berwujud termasuk tanah tersebut harus dimiliki dan digunakan untuk kegiatan usaha utama.

Aktiva tetap berwujud termasuk tanah yang mendapatkan fasilitas investment allowance tidak boleh digunakan selain untuk tujuan pemberian fasilitas atai dialihkan sebelum berakhirnya jangka waktu 6 tahun sejak dimulainya pemanfaatan.

Namun, larangan tersebut tidak berlaku apabila aktiva tetap berwujud tersebut diganti dengan aktiva tetap berwujud baru.

Dalam hal ini, nilai aktiva tetap berwujud yang menjadi landasan pengurangan penghasilan neto sebesar 60% dari nilai aktiva tetap berwujud adalah nilai yang lebih rendah antara niai aktiva tetap berwujud yang diganti dengan pengganti.

Untuk diketahui, sektor padat karya yang berhak mendapatkan fasilitas investment allowance ini antara lain:

1. Industri berbasis daging lumatan dan surimi

2. Industri pengolahan dan pengawetan ikan dan biota air (bukan udang) dalam kaleng (kecuali di DKI Jakarta)

3. Industri pengolahan dan pengawetan udang dalam kaleng (kecuali di DKI Jakarta)

4. Industri pembekuan biota air lainnya (kecuali di DKI Jakarta)

5. Industri pengolahan dan pengawetan lainnya untuk biota air lainnya (kecuali di DKI Jakarta)

6. Industri pengolahan dan pengawetan buah-buahan dan sayuran dalam kaleng

7. Industri pengolahan susu segar dan krim

8. Industri makanan sereal

9. Industri produk roti dan kue

10. Industri makanan dari cokelat dan kembang gula

11. Industri pengolahan kopi (kecuali di DKI Jakarta)

12. Industri produk masak dari kelapa

13. Industri pemintalan benang

14. Industri batik

15. Industri pakaian jadi (konveksi) dari tekstil

16. Industri pakaian jadi (konveksi) dari kulit

17. Industri pakaian jadi rajutan

18. Industri penyamakan kulit

19. Industri barang dari kulit dan kulit buatan untuk keperluan pribadi

20. Industri barang dari kulit dan kulit buatan untuk keperluan teknik/industri

21. Industri alas kaki untuk keperluan sehari-hari

22. Industri sepatu olahraga

23. Industri kertas dan papan kertas gelombang (kecuali di DKI Jakarta)

24. Industri kemasan dan kotak dari kertas dan karton (kecuali di DKI Jakarta)

25. Industri kertas tissue (kecuali di DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa TImur selain Madura)

26. Industri barang dari karet lainnya YTDL (hanya di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kepri, Jambi, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Papua Barat, Papua)

27. Industri barang dari plastik untuk bangunan

28. Industri barang galian bukan logam lainnya YTDL

29. Industri peralatan makan dari logam

30. Industri paku, mur dan baut

31. Industri peralatan dapur dari logam

32. Industri perlengkapan komputer

33. Industri televisi dan/atau perakitan televisi

34. Industri peralatan perekam, penerima dan pengganda audio dan video, bukan industri televisi

35. Industri peralatan audio dan video elektronik lainnya

36. Industri pengubag tegangan (transformator), pengubah arus (rectifier), dan pengontrol tegangan (voltage stabilizer)

37. Industri peralatan pengontrol dan pendistribusian listrik

38. Industri peralatan listrik rumah tangga

39. Industri kompor

40. Industri pompa lainnya, kompresor, kran, dan klep/katup

41. Industri mesin pertanian dan kehutanan

42. Industri furnitur dari kayu

43. Industri furnitur dari rotan dan/atau bambu

44. Industri barang perhiadan dari logam mulia untuk keperluan pribadi

45. Industri mainan anak-anak

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

manufaktur industri padat karya insentif investasi
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

Foto loadmore

BisnisRegional

To top