Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Lembaga Internasional Diklaim Minat Kembangkan Pembangkit EBT

Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan EBT sebanyak 439 GW, sedangkan yang baru tergarap baru sebesar 2,3 persen atau 10,1 GW.
Petugas sedang melakukan pengecekan harian di PLTS Gili Trawangan dengan kapasitas 600 kWp/ Bisnis - David E. Issetiabudi
Petugas sedang melakukan pengecekan harian di PLTS Gili Trawangan dengan kapasitas 600 kWp/ Bisnis - David E. Issetiabudi

Bisnis.com, JAKARTA - Kementerian ESDM mengklaim saat ini sejumlah lembaga pembiayaan internasional banyak yang tertarik untuk mendanai proyek pembangkit energi baru terbarukan (EBT) di Tanah Air.

Direktur Aneka Energi Baru dan Energi Terbarukan Kementerian ESDM Harris mengatakan lembaga tersebut berasal dari negara Arab, Jepang, Australia, Eropa dan lain sebagainya.

"Secara global tren EBT ini naik dan didukung tren pembiayaan internasional banyak yang masuk sperti ini Norwegia, mungkin besok Australia juga ada, negara Eropa juga banyak yang datang ke sini, Arab juga," terang Harris, Senin (9/3/2020).

Dia menambahkan Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan EBT. Hingga kini potensi EBT yang baru tergarap baru sebesar 2,3 persen atau 10,1 GigaWatt (GW) dari total potensi sebanyak 439 GW.

Selain itu, porsi EBT dalam bauran energi primer untuk pembangkit listrik baru mencapai 12,36 persen. Padahal pemerintah menargetkan target bauran EBT dalam energi primer pada 2025 mencapai 23 persen.

Pemerintah, lanjutnya, tengah berupaya meningkatkan pembangkit listrik EBT berupa tenaga laut, surya, angin, biomassa, panas bumi dan hidro. Tahun ini, Kementerian ESDM menargetkan penambahan daya listrik sebesar 933 megawatt (MW) dari pembangkit EBT.

Tambahan tersebut berasal dari tenaga panas bumi sebesar 151 MW, lalu makro hidro sebesar 326 MW, mini hidro 238 MW, lalu photovoltaic (PV) solar atau atap rumah sebesar 78 MWp, panas bumi sebesar 39 MW, dan biofuel sebesar 487 ribu KL.

"Pada 2021 ada tambahan 1.697 MW, pada 2022 ada 1.501 Mw, pada 2023 ada 1.065 MW, pada 2024 2.287 MW, dan pada 2025 akan ada 6.251 MW dari pembangkit EBT," ujarnya.

Kementerian ESDM juga menargetkan investasi EBT berupa angin, surya, hidro, bioenergi, dan panas bumi dapat mencapai sebesar US$17,8 miliar dari 2020 hingga 2024.

Selain itu, Kementerian ESDM tengah mengintegrasikan implementasi PV solar dengan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap rumah. Hal ini juga sebagai upaya untuk menggerakkan ekonomi lokal dengan menciptakan permintaan PV di daerah.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Yanita Petriella
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper