Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pemerintah Dinilai Inkonsisten Soal Stimulus Baru Lawan Corona

Stimulus lanjutan yang disiapkan pemerintah untuk mengantisipasi dampak virus corona dianggap inkonsisten oleh ekonom karena akan memberi kemudahan izin importir.
Dewi Aminatuz Zuhriyah
Dewi Aminatuz Zuhriyah - Bisnis.com 03 Maret 2020  |  19:07 WIB
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara (kanan) dan Peneliti Indonesia for Global Justice (IGJ) Hafidz Arfandi memberikan paparan dalam diskusi bertajuk Di Bawah Bayangan Perang Dagang & Ancaman Defisit Berkepanjangan, di Jakarta, Selasa (18/6/2019). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara (kanan) dan Peneliti Indonesia for Global Justice (IGJ) Hafidz Arfandi memberikan paparan dalam diskusi bertajuk Di Bawah Bayangan Perang Dagang & Ancaman Defisit Berkepanjangan, di Jakarta, Selasa (18/6/2019). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA — Pemberian stimulus kedua terkait pelonggaran kebijakan ekspor impor untuk antisipasi dampak corona virus bak buah simalakama bagi pemerintah. 

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira mengatakan adanya stimulus terbaru ini justru menunjukkan bahwa pemerintah inkonsisten terkait target untuk menekan impor.

“Betul, stimulus itu justru berpihak pada kemudahan izin importir, bukannya saat ini justru kesempatan bagi pengusaha domestik untuk lakukan substitusi impor,” kata Bhima, Selasa (3/3/2020). 

Bima menyatakan bahwa persoalan virus corona ini sebenarnya bisa menjadi pembelajaran bagi Indonesia agar tidak ketergantungan dengan barang impor China.  

“Padahal sebelumnya industri yang menjadi subsitusi impor diberikan aneka insentif dalam paket kebijakan. Jadi terkesan pemerintah inkonsisten,” ujarnya.

Menurutnya, persoalan virus corona saat ini seharusnya bisa menjadi peluang bagi industri bahan baku dalam negeri untuk meningkatkan produksi.

“Momentum ini bisa buka peluang industri bahan baku lokal, apalagi belum diketahui berapa lama dampak corona melemahkan ekonomi China,” imbuhnya.

Adapun, Sekretaris Menteri Koordinator didang Perekonomian Susiwijono mengatakan stimulus kedua yang akan dikeluarkan nantinya terdiri dari empat kebijakan. 

Pertama pemerintah akan melakukan penyederhanaan aturan larangan pembatasan atau tata niaga terkait dengan ekspor. 

“Itu mulai dari aturan untuk SVLK [Sistem Verifikasi dan Legalitas Kayu] itu untuk kayu, produk kayu dan keterangan asal. Intinya seluruh aturan tata niaga ekspor disederhanakan dan kalau tidak perlu dihapuskan,” jelasnya. 

Adapun, kebijakan yang kedua adalah pemerintah akan melakukan pengurangan pembatasan larangan atau tata niaga terhadap impor, terutama impor bahan baku.

“Jadi impor bahan baku ini supaya tidak terkendala dalam proses impornya larangan pembatasan impornya kita kurangi sebisa mungkin kita hapuskan,” katanya. 

Ketiga, pemerintah akan melakukan percepatan proses impor untuk 500 reputable importir. Percepatan ini berupa pengurangan treatment pemeriksaan kepada para importir tersebut. 

Adapun, kebijakan yang keempat adalah pemerintah akan mengurangi biaya logistik dengan melakukan efisiensi dengan cara mendorong national logistic ecosystem.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kementerian perdagangan ekspor impor kemenko perekonomian kebutuhan pokok
Editor : Fitri Sartina Dewi
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top