Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Indonesia Harus Rebut Peluang Ekonomi Secara Geopolitik, Ini Alasannya

Indonesia seharusnya bisa memaksimalkan peluang secara geopolitik di tengan perebutan pengaruh ekonomi oleh negara-negara maju.
Feni Freycinetia Fitriani
Feni Freycinetia Fitriani - Bisnis.com 16 Februari 2020  |  21:53 WIB
Marwan Djafar - ansor
Marwan Djafar - ansor

Bisnis.com, JAKARTA - Indonesia seharusnya bisa memaksimalkan peluang secara geopolitik di tengan perebutan pengaruh ekonomi oleh negara-negara maju, seperti Amerika Serikat, China, Jepang, dan India.

Anggota Komisi VI DPR dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Marwan Jafar mengatakan pemerintah seperti lupa atau tidak menyadari di mana sesungguhnya posisi strategis Indonesia dalam peta dunia.

Menurutnya, Presiden Ke-7 RI Joko Widodo pernah menyampaikan pidato kenegaraan bertema 'Poros Maritim Dunia' pada forum Konferensi Tingkat Tinggi Asia Timur di Naypyidaw, Myanmar, November 2014.

"Peristiwa itu penting sudah jadi legalitas dan masuk sebagai lembaran kenegaraan. Apakah pidato tersebut sudah mendefinisikan posisi geopolitik ekonomi Indonesia dan terjabarkan secara operasional menjadi panduan bagi jajaran di pemerintah?" ujarnya dalam siaran pers, Minggu (16/2/2020).

Dia mengatakan indikasi tumbuhnya kesadaran geopolitik tersebut terutama saat Presiden Ke-4 KH Abdurrahman Wahid menggagas dan mewujudkan Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk mengembalikan potensi besar kemaritiman.

Marwan menilai pemerintah seharusnya memperkuat fondasi perekonomian nasional untuk merespon perebutan pengaruh perekonomian global yang makin tak terhindarkan.

Perebutan pengaruh pemain besar ekonomi dunia mutakhir, bisa dicatat momentumnya sejak 2007 saat PM Jepang Shinzo Abe pidato di depan parlemen India berjudul 'Confluence of the Two Seas' seraya menyebut potensi Indo Pasifik.

Pada November 2011, Presiden AS Barack Obama menetapkan kebijakan 'Pivot to the Pacific' atau Rebalancing toward Asia dengan maksud terutama merespon kebangkitan ekonomi China.

Dua tahun berselang, Presiden China Xi Jinping mengenalkan kebijakan ekonomi yang dia sebut 'Jalur Sutera Maritim' (Maritime Silk Road) pada pidato 30 menit di forum resmi DPR RI yang dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Menurutnya, penting bagi pemerintah menjadikan ide presiden di konferensi internasional tersebut sebagai strategi besar menempatkan posisi tawar ekonomi Indonesia secara geopolitik. Hal itu terkait strategi memasarkan produksi berbagai sumber daya alam serta memberikan respon melalui gagasan Poros Maritim Dunia (Global Maritime Nexus).

"Saya berharap publik juga mengetahui kebijakan dan program pemerintah khususnya di bidang perdagangan dan industri Pengusaha dari kelas UMKM, menengah, hingga besar seharusnya sadar akan pentingnya pendekatan posisi geopolitik ekonomi. Tanpa menyadari hal itu, kita bakal ketinggalan kereta perdagangan dunia," ucapnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekonomi
Editor : Andhika Anggoro Wening
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top