Maskapai Diberi Tenggat untuk Buka Rute Baru  

Rute penerbangan internasional pengganti China yang disarankan oleh Kemenhub salah satunya negara di kawasan Asia Selatan seperti India, Pakistan, dan Bangladesh.
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 13 Februari 2020  |  10:59 WIB
Maskapai Diberi Tenggat untuk Buka Rute Baru  
Penumpang melintas di dekat layar informasi penerbangan di Terminal Keberangkatan Internasional Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, Selasa (4/2/2020). - ANTARA / Fikri Yusuf

Bisnis.com, JAKARTA - Kementerian Perhubungan memberikan tenggat hingga Mei 2019 bagi maskapai nasional yang tertarik menerbangi rute baru pengganti ke China.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan rute yang paling memungkinkan adalah Asia  Selatan seperti India, Pakistan, dan Bangladesh. Alasannya, kata dia, selain konektivitas yang belum optimal di wilayahnya itu,  telah ada pertemuan dengan sejumlah duta besar negara tersebut dalam merencanakan connecting flight.

Terlebih, sambung Budi, pertemuan dengan duta besar tersebut telah dilakukan sebelum adanya peristiwa penyebaran virus Corona.

“Kami meminta kepada Garuda kepada Batik, Lion Air hingga Air Asia sebaginya untuk mencari konektivitas. Paling lambat Mei ini sudah lakukan karena perencanaan itu tak bisa dilakukan seketika,” jelasnya, Kamis (13/2/2020).

Sementara itu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio memberhentikan promosi wisata ke China  menyusul mewabahnya virus 2019-nCoV. Sebagai gantinya, pemerintah berupaya mendorong promosi wisata ke negara lain, seperti Amerika dan Eropa.

"Kami akan kerja sama dengan maskapai untuk mempromosikan pariwisata ke Eropa dan Amerika," ujarnya.

Dia mengakui sektor pariwisata memang menanggung kerugian besar akibat  virus Corona. Wishnu menyatakan jika virus ini  terus menyerang hingga akhir tahun, total kerugiannya bisa mencapai US$2,8 triliun.

Perkiraan tersebut, dihitung dari total spending atau pengeluaran rata-rata harian wisatawan dikalikan dengan jumlah kunjungan. Pada 2019, wisatawan asal China berjumlah 2 juta turis ke Indonesia.

Mantan bos Net TV tersebut langkah komperhensif  harus dilakukan bukan hanya dari maskapai, tetapi juga hotel dan lain sebagainya.

Saat ini Kemenparekraf bersama Kementerian Perhubungan akan mendengarkan masukan dari pihak lainnya seperti Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI).

“Ini usaha untuk bagaimana dapat menghadapi atau melewati tantangan virus Korona ini. Tidak mudah tapi harus  lakukan yang terbaik,”tekannya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
maskapai penerbangan, virus corona

Editor : Yustinus Andri DP
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top