Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bisnis Hotel Virtual Diisukan Goyah, Bagaimana Nasib Para Mitra?

Bisnis hotel virtual di Indonesia diprediksi akan tetap eksis karena tingginya minat pasar terhadap hotel bujet.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 13 Februari 2020  |  20:50 WIB
Resepsionis hotel sedang melayani calon konsumen. - Ilustrasi/Bisnis/Amri Nur Rahmat
Resepsionis hotel sedang melayani calon konsumen. - Ilustrasi/Bisnis/Amri Nur Rahmat

Bisnis.com, JAKARTA – Belakangan ini bisnis virtual hotel operator (VHO) dinilai tengah goyah, lantas bagaimana dampaknya terhadap para pemilik properti yang bekerja sama untuk mengelola asetnya dengan VHO?

Director and Head of Research Savills Indonesia Anton Sitorus mengatakan bahwa guncangan yang tengah melanda dunia VHO belakangan ini tak akan mempengaruhi pasar properti hotel, baik yang bermitra dan juga yang konvensional.

Terlebih, guncangan yang terjadi umumnya tidak ada di Indonesia, atau hanya masalah internal.

“Efisiensi misalnya, kemungkinan banyak dilakukan di luar negeri. Di sini kemungkinan masih bisa tetap berdiri karena hotel bujet masih jadi pilihan buat anak muda yang cari hotel dari sisi harganya saja,” ungkapnya saat dihubungi Bisnis, Kamis (13/2/2020).

Adapun, lanjut Anton, di Indonesia kebanyakan yang menggunakan layanan VHO adalah hotel kecil, sehingga dari sisi pasar sepertinya tidak akan terlalu terpengaruh

Menanggapi banyaknya hotel yang tergerus kinerjanya dengan adanya VHO, Anton menyebutkan bahwa kompetisi itu pasti terjadi.

“Akan ada terus konsumen untuk harga murah, ada yang cari fasilitas, berhubung keduanya masih ada jadi dua-duanya masih bisa saling bersaing, dan menurut saya umurnya masing-masing masih akan panjang,” lanjutnya.

Hotel yang bermitra dengan VHO, menurutnya akan tumbang ketika hanya mementingkan angka, seperti pertumbuhan harga kamar, atau tambahan jumlah kamar dan ekspansi saja. Nantinya, yang akan jadi pilihan tetaplah yang punya layanan baik.

“Karena seiring pendapatan naik, orang pasti akan perlahan bergeser pilih hotel yang fasilitasnya lebih memadai. Kalau fasilitasnya kurang bagus nantinya orang tidak akan datang kesana untuk kedua kalinya,” imbuhnya.

Sementara itu, belum lama ini, penyedia jasa VHO OYO Hotels di India mendapat keluhan dari 10.000 mitranya lantaran sering menaikan biaya bagi hasil yang dilakukan secara sepihak dan kerap menurunkan harga di tengah kondisi ekonomi yang melambat.

Kemudian, RedDoorz baru-baru ini juga merumahkan puluhan karyawannya. Hal ini diakui bukanlah bagian dari efisiensi, melainkan masalah internal lantaran capaian kerja yang kurang maksimal.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

properti perhotelan
Editor : Fitri Sartina Dewi
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top