Aksesibilitas Pelabuhan Utama Indonesia Kalah dari Thailand dan Vietnam

Berdasarkan laporan anggota ALFI aksesbilitas menuju ke pelabuhan-pelabuhan utama di Indonesia masih dijumpai banyak permasalahan.
Rinaldi Mohammad Azka
Rinaldi Mohammad Azka - Bisnis.com 12 Februari 2020  |  16:51 WIB
Aksesibilitas Pelabuhan Utama Indonesia Kalah dari Thailand dan Vietnam
Ilustrasi - Pelabuhan Trisakti Banjarmasin, Kalimantan Selatan. - Bisnis/Youtube

Bisnis.com, JAKARTA - Pelabuhan utama ekspor dan impor Indonesia masih kalah dibandingkan dengan pelabuhan sejenis dari negara lain seperti Thailand dan Vietnam.

Ketua DPP Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Yukki Nugrahawan Hanafi menjelaskan berdasarkan laporan perusahaan anggota yang operasikan armada truk akses ke pelabuhan-pelabuhan utama di Indonesia masih banyak permasalahan yang melanda.

Dia merinci sejumlah masalah, yakni sering terjadi kemacetan di sekitar pelabuhan pada puncak kegiatan, jalan masuk ke pelabuhan menjadi satu dengan jalan umum (arteri), tidak tersedia area parkir yang memadai, manajemen lalu lintas jalan di pelabuhan yang masih konvensional (belum digitalisasi).

Selain itu, akses jalan ke pelabuhan yang berdekatan dengan jalan perkotaan, regulasi yang membatasi operasional truk pada hari-hari raya, masuk tol dan masuk jalan-jalan arteri, kapasitas pelabuhan yang terbatas sehingga sering kongesti, kapal sering antre karena kapasitas CY.

Kemudian, sistem CEISA pelabuhan sering terjadi error, kapasitas angkut kapal direct call relatif terbatas, dan waktu clossing terlalu pendek sehingga memerlukan waktu tambahan.

"Perbandingan dengan negara lain apabila dibandingkan dengan akses jalan dari dan ke pelabuhan dengan negara lain seperti Vietnam dan Thailand akses jalan pelabuhan di Indonesia tidak kompetitif," paparnya saat dihubungi Bisnis, Rabu (12/2/2020).

Pasalnya, akses pelabuhan di negara-negara tetangga sudah lebih mumpuni karena disediakan jalan khusus truk (jalan ekonomi), disediakan kawasan parkir yang memadai, dan manajemen lalu lintas di pelabuhan dan sekitarnya sudah menggunakan teknologi digital.

"Selain itu, tidak ada lalu lintas truk bawa petikemas kosong di dalam dan di sekitar pelabuhan, ruang Kapal tersedia cukup memadai dan rempat Penumpukan Petikemas (CY) kapasitasnya besar," terangnya.

Adapun sistem informasi dan komunikasi di pelabuhan negara lain sudah terintegrasi secara digital, sehingga arus barang benar-benar terpantau.

Di Indonesia setidaknya ada 4 BUMN pelabuhan yang masing-masing mengelola pelabuhan utama untuk aktivitas ekspor dan impor, yakni Pelabuhan Belawan dikelola Pelindo I, Pelabuhan Tanjung Priok dikelola Pelindo II, Pelabuhan Tanjung Perak dikelola Pelindo III, dan Pelabuhan Makassar dikelola Pelindo IV.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pelabuhan, alfi

Editor : Yustinus Andri DP
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top