Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Dampak Virus Corona Belum Dirasakan oleh Industri Tambang

Dampak dari wabah virus corona di China diperkirakan baru dapat dilihat dalam satu hingga dua bulan ke depan.
Yanita Petriella
Yanita Petriella - Bisnis.com 12 Februari 2020  |  17:12 WIB
Aktivitas bongkar muat batu bara di salah satu tempat penampungan di Balikpapan, Kalimantan Timur, Rabu (3/10/2018). - ANTARA/Irwansyah Putra
Aktivitas bongkar muat batu bara di salah satu tempat penampungan di Balikpapan, Kalimantan Timur, Rabu (3/10/2018). - ANTARA/Irwansyah Putra

Bisnis.com, JAKARTA - Sejumlah pengusaha tambang mineral dan batu bara menyebutkan virus corona atau COVID 19 belum terasa dampaknya  pada sektor pertambangan mineral dan batu bara di Indonesia.

Ketua Umum Indonesian Mining and Energy Forum (IMEF) Singgih Widagdo mengatakan pertambangan batubara China dipastikan terganggu atas volume produksi. Virus Corona juga menganggu industri di China sehingga mengakibatkan kebutuhan energi untuk industri juga dipastikan mengalami penurunan.

"China juga menghadapi kesulitan untuk impor mengingat ada beberapa kapal yang tidak berani merapat ke China," ujarnya kepada Bisnis, Rabu(12/2).

Saat ini kondisi stockpile batu bara yang sangat menipis di China, bahkan penipisan terdalam sejak 2016. Pemerintah China pun berusaha untuk memacu produksi atas kebutuhan pembangkit setelah liburan berakhir dan akibat adanya virus corona. Namun, dia menilai China tidak mudah mendorong kenaikan produksi dengan cepat.

"Atas kondisi penurunan produksi, dan belum jelasnya percepatan produksi China kembali, maka dampak akibat corona secara langsung pasti terjadi," ucap Singgih.

Kendati demikian, perubahan atas besarnya penurunan produksi dan terganggunya industri mereka terhadap naiknya kepastian angka naiknya potensi ekspor batubara ke China, baru dapat dilihat dalam satu hingga dua bulan ke depan.

Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Baru Bara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia menuturkan hingga saat ini virus corona belum berdampak signifikan karena liburan Chinese New Year yang cukup panjang dan sejumlah pabrik baru beroperasi minggu ini.

"Kondisi demand belum bisa di assess saat ini, kemungkinan dibeberapa minggu depan baru bisa terlihat," katanya.

Dia memperkirakan permintaan batu bara akan menurun akibat adanya virus corona. Kendati demikian, pihaknya belum mengetahui seberapa besar penurunan permintaan tersebut. Selain itu juga terdapat kemungkinan gangguan pasokan supply domestik batu bara di China

"Nah gangguan supply batu bara domestik di China mungkin bisa terjadi. Ini bisa mendorong impor juga tetapi belum tahu berapa besar," tuturnya.

Sepanjang tahun 2018, lanjut Hendra, ekspor batu bara ke China sekitar 120 juta ton dari total ekspor batu bara sebesar 356 juta ton.

Sekretaris Perusahaan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) Dileep Srivastava menuturkan hingga saat ini, ekspor batu bara ke China masih berjalan normal. Namun, di menyatakan tetap waspada dan terus mencermati dampak virus tersebut terhadap permintaan batu bara dari China

"Sampai saat imi belum ada dampak. Kami masih harus menunggu dan melihat apakah ada dampak ke depannya," ucapnya.

Adapun porsi ekspor batu bara BUMI ke China sebesar 19% dari total penjualam 87,7 juta ton tahun lalu.

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Industri Pengolahan dan Pemurnian Indonesia (AP3I) Prihadi Santoso menuturkan pihaknya khawatir dengan ekspor nikel matte, feronikel, nikel pig iron (NPI) yang sulit diekspor karena demand nikel di China yang melemah akibat virus corona.

"Untuk turunan nikel, ekspor tahun ini akan berdampak akibat adanya virus corona. Seberapa besar, belum tahu," ujarnya.

Direktur Keuangan PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) Bernardus Irmanto menuturkan untuk produk nikel matte Vale tidak ada yang dieskpor ke China sehingga tidak ada pengaruhnya sampai saat ini.

"Kami ekspor ke Jepang, enggak ada ke China," katanya.

Menurutnya, virus korona berdampak pada harga yang agak turun karena market meresponse negatif adanya virus outbreak ini. Namun, pergerakan harga belakangan ini memang lebih didorong karena pergerakan inventory dan juga proyeksi demand nikel secara keseluruhan.

"Isu korona hanya menjadi side isu yang mempengaruhi harga," ucap Bernardus.

Sementara itu, Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Bambang Gatot Ariyono berpendapat hingga saat ini virus corona belum berdampak pada komoditas batubara. Namun, menurutnya, virus corona berdampak pada dengan komoditas mineral lainnya seperti tembaga.

Hal itu dikarenakan batubara bukan menjadi komoditas yang secara langsung dipakai sebagai bahan baku industri, sedangkan komoditas mineral yang terkait langsung dengan proses dan bahan baku industri.

"Batubara belum kelihatannya dampaknya, komoditas lain mungkin terpengaruh, tembaga misalnya. Mungkin karena batubara untuk energi, bukan komoditas yang langsung untuk industri," tuturnya.

Pihaknya tak menampik bahwa China memang menjadi pasar dominan dalam ekspor komoditas tambang Indonesia. China juga memiliki porsi terbesar dalam ekspor batubara, maupun sejumlah komoditas mineral lain seperti nikel dan produk turunannya.

Kendati demikian, pihaknya enggan membeberkan lebih detail besaran komoditi mineral dan batubara yang diekspor ke negeri Tirai Bambu itu.

Di tahun ini sendiri, ekspor batubara Indonesia sebanyak 400 juta ton dari total 550 juta ton yang akan diproduksi. Adapun ekspor batu bara terbesar ke negara China, Jepang, dan India.

"China termasuk yang besar untuk pasar ekspor batubara kita. Nikel juga, ada NPI (Nickel Pig Iron) dan nickel matte. Angkanya saya enggak hafal tetapi yang jelas China termasuk besar" kata Bambang.

Hingga saat ini, lanjutnya, belum ada perusahaan yang mengajukan perubahan rencana volume produksi maupun penjualan.

"Belum ada yang datang ke kami, apakah itu mengurangi produksi maupun penjualan ke China," ucapnya.

Dia berharap efek corona ini tidak akan merembet ke komoditas tambang Indonesia. Pasalnya, meski saat ini belum berpengaruh, namun dalam jangka panjang bisa jadi terpengaruh pada komoditas tambang Tanah Air

"Kalau sampai jangka panjang bisa saja terpengaruh, nanti kita check itu. Ya kan saya enggak tahu coronanya selesai berapa lama. Berapa lama corona selesai kapan? Tahun depan selesai apa tahun ini selesai?," tutur Bambang.

Ketua Komisi VII DPR RI Sugeng Suparwoto mengimbau agar pemerintah berhati-hati terhadap dampak yang bisa terjadi akibat wabah corona ini.

Dia mencontohkan adanya virus corona menyebabkan China mengurangi konsumsi energi yakni minyak dimana sudah mengurangi sekitar 20% konsumsi minyak dari sebelumnya 14 juta barel per hari, menjadi sekitar 10 juta barel.

"Diperkirakan konsumsi batubara pun akan turun jauh karena sama-sama komoditas energi. Jadi dampak itu diperkirakan akan segera hadir," ujar Sugeng

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

batu bara tambang mineral
Editor : Yustinus Andri DP
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top