Merck Sharp Dohme Ungkap Tantangan Industri Farmasi Nasional

Industri farmasi di seluruh dunia mengimpor bahan baku obat dari China dan India karena mengimpor dianggap jauh lebih murah dan skala keekonomiannya lebih mencukupi.
Andi M. Arief & Ipak Ayu H.N
Andi M. Arief & Ipak Ayu H.N - Bisnis.com 10 Februari 2020  |  20:26 WIB
Merck Sharp Dohme Ungkap Tantangan Industri Farmasi Nasional
Ilustrasi - Pabrik Obat - ANTARA/Indrianto Eko Suwarso

Bisnis.com, JAKARTA - PT Merck Sharp Dohme (MSD) Indonesia menilai tingginya impor bahan baku obat untuk industri farmasi di Indonesia bukan menjadi persoalan utama.

Managing Director MSD Indonesia George Zaki mengatakan industri farmasi di seluruh dunia mengimpor bahan baku obat dari China dan India karena mengimpor jauh lebih murah dan skala keekonomiannya lebih mencukupi. Pasalnya, skala ekonomi produksi bahan baku obat sangat besar.

Menurutnya, biaya produksi industri farmasi dibagi tiga yakni riset, manufaktur, dan bahan baku. Biaya dan nilai tambah terendah ada pada bahan baku.

Oleh karena itu, industri farmasi yang paling maju, seperti Amerika Serikat dan negara-negara di Eropa, memilih untuk mengimpor bahan baku obat.

"Jadi, saya tidak melihat bahan baku obat sebagai sebuah permasalahan karena kontribusinya ke industri farmasi secara keseluruhan tidak besar. Yang dibutuhkan untuk ditingkatkan adalah produksi dan riset obat itu sendiri," katanya saat ditemui Bisnis.com pada (20/1/2020).

Dari sisi kinerja perseroan, Zaki menyatakan produksi industri farmasi pada tahun lalu cukup tertekan. Namun demikian, perseroan mengklaim pertumbuhan produksi fasilitas produksi perseroan di Pandaan, Jawa Timur cukup baik.

Adapun, perseroan mencatat pabrik tersebut mengekspor ke 14 negara di Asia Pasifik selain Indonesia. Volume ekspor perseroan pun lebih besar daripada penjualan kami di dalam negeri.

Negara tujuan ekspor perseroan saat ini seperti Australia, India, dan Singapura. Namun, Zaki tidak bisa menyebutkan jenis obat yang diproduksi karena pihaknya hanya memproduksi obat paten.

Perseroan pun mengklaim telah memiliki banyak pelatihan di Jakarta, Pandaan, maupun daerah-daerah di mana perseroan beroperasi. Perseroan juga akan meningkatkan fasilitas produksi di Pandaan.

Tahun lalu MSD menginvestasikan dalam peningkatan fasilitas Pandaan senilai US$3 juta, sedangkan tahun ini pun akan menambah investasi lagi senilai US$4,3 juta. Zaki pun optimistis performa perseroan dan industri farmasi pada tahun ini dapat membaik.

Menurut Zaki, tujuan utama perseroan adalah memperluas akses pasien terhadap produk-produk. Perseroan akan fokus pada empat bantuan terapeutik yakni onkologi, vaksin, diabetes, dan layanan penyakit akut pada rumah sakit.

"Untuk tahun lalu, saya belum bisa menyampaikan angka pertumbuhan yang dicapai karena pertemuan bisnis gobal kami belum dilaksanakan. Namun, saya cukup bangga terhadap dampak yang kami berikan pada hidup masyarakat Indonesia pada 2019," ujarnya.

IMPOR TURUN

Terpisah, Gabungan Pengusaha Farmasi memproyeksi pertumbuhan industri farmasi memperkirakan impor bahan baku tahun ini juga akan mulai turun meski akan lebih signifikan pada tahun depan. Dari sisi pertumbuhan investasi, sektor ini diperkirakan mencatat pertumbuhan sekitar 6 persen - 7 persen.

Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Farmasi (GP Farmasi) Dorojatun Sanusi mengatakan sebenarnya jika berbicara angka terkadang tergantung sumber yang beragam. Pasalnya, tahun lalu perusahaan farmasi juga ada yang mencatatkan pertumbuhan dua digit.

"Jadi kami proyeksikan 6 persen -7 persen walau sebenarnya diharapkan lebih lagi tetapi kembali ke persoalan cashflow perusahaan farmasi yang selalu tersendat akibat pembayaran BPJS setelah enam bula," katanya, Kamis (6/2/2020).

Dorojatun mengemukakan investasi di industri farmasi saat ini juga masih terus berjalan. Dia mencatat sekitar 7 - 9 perusahaan yang umumnya melakukan skema Joint Venture (JV) dengan mayoritas kepemilikan oleh lokal akan membuat produksi bahan baku obat di dalam negeri.

Alhasil, jika keseluruhan investasi sudah berjalan dalam dua tahun ke depan penekanan impor bahan baku sekitar 15 persen - 20 persen akan tercapai.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
farmasi

Editor : David Eka Issetiabudi
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top