Pemerintah Berharap Tuah IA-CEPA

Dalam lawatan Presiden Joko Widodo ke Australia hingga 10 Februari mendatang, akan dibahas rencana aksi dari IA-CEPA yang baru diratifikasi DPR RI pada 6 Februari 2020.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 08 Februari 2020  |  21:23 WIB
Pemerintah Berharap Tuah IA-CEPA
Duta Besar Indonesia untuk Australia Kristiarto S Legowo, Menteri Perdagangan Agus Suparmanto, Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dan Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko (kiri ke kanan) menyampaikan pernyataan resmi di Canberra, Australia pada Sabtu (8/2/2020) ANTARA - Desca Lidya Natalia.

Bisnis.com, JAKARTA - Pemerintah berharap Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Australia atau Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA) dapat mendorong minat investasi perusahaan Australia di Indonesia.

Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan selama ini investasi dari Australia jumlahnya tidak masuk ke dalam 5 besar sekitar US$400 juta - US$ 700 juta.

"Dengan IA-CEPA diharapkan dapat membangkitkan minat Australia," katanya, Sabtu (8/2/2020)

Dalam lawatan Presiden Joko Widodo ke Australia hingga 10 Februari mendatang, akan dibahas rencana aksi dari IA-CEPA yang baru diratifikasi DPR RI pada 6 Februari 2020.

Sepanjang 2019, penanaman modal asing (FDA) asal Australia tercatat US$348,2 juta dengan realisasi 1.037 proyek. Realisasi investasi asing asal Australia mengalami penurunan dibandingkan dengan capaian 2018 sebesar US$597,4 juta dengan 635 proyek.

Saat ini, lebih dari 400 perusahaan asal Australia yang beroperasi di berbagai sektor seperti pertambangan, pertanian, infrastruktur, keuangan, kesehatan, makanan, minuman dan transportasi.

Airlangga menambahkan, adanya IA-CEPA tetap memberikan keuntungan dari sisi neraca perdagangan Indonesia Australia.

"Diharapkan dengan IA-CEPA walau biaya masuknya diturunkan rata-rata dari 5 persen menjadi 0 persen itu yang akan bisa didorong tekstil dan otomotif," tambahnya.

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, total perdagangan Indonesia-Australia mencapai US$8,62 miliar dengan ekspor Indonesia ke Australia mencapai US$2,8 miliar dan impor US$5,82 miliar.

Potensi ekspor yang dapat digali, lanjut Airlangga, adalah produk otomotif. Pasalnya, Australia memiliki demand 1,1 juta dan produk-produk seperti kendaraan komersial, seperti truk dan SUV sangat diminati.

"Indonesia punya kapasitas dan tinggal bicara produsen-produsen di Indonesia bisa mempercepat baik hybrid dan elektronik seperti yang tercantum di IA-CEPA namun juga combination engine, karena hybrid dan elektrik baru berproduksi pada 2021," ujarnya.

Selain membahas IA-CEPA, Presiden Jokowi akan mengikuti forum bisnis dengan sekitar 20 orang pengusaha bidang pertambangan, jasa, kesehatan dan pendidikan.

Menteri Perdagangan Agus Suparmanto mengatakan dengan selesainya ratifikasi IA-CEPA, dapat meningkatkan akses Indonesia ke Australia. Menurutnya, dalam 100 hari ini pihaknya akan intens untuk berkomunikasi dengan menteri perdagangan Australia.

"Diharapkan dengan meningkatkan akses pasar mengurangi defisit juga dan ekspor bertambah, selain itu juga ada kemudahan lain soal tarif, dan produk-produk kita bisa lebih kompetitif," kata Agus.

Di sisi lain, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan ada dua hal pokok yang akan dibahas. Pertama, konektivitas udara di mana penerbangan Australia ke Indonesia masih lebih banyak yaitu 115 penerbangan dibanding dari Indonesia ke Australia yang hanya 82 penerbangan.

Menurutnya, batasan-batasan yang selama ini ada akan diminta dikurangi. "Apalagi kita tahu bahwa sekarang ini status Indonesia masih yellow, artinya kita dibedakan dengan negara-negara lain seperti Vietnam dan sebagainya kita minta disamakan jadi green sehingga memudahkan pergerakan orang dari sini ke sana dan dari sana dan ke sini," katanya.

Selain itu akan ditandatangani juga kerja sama bidang vokasi dan keamanan. Budi menambahkan Australia banyak mendukung soal keamanan di Indonesia terutama memberikan tenaga-tenaga pelatihan.

"Karena itu kita minta ditingkatkan untuk memberikan dukungan kepada vokasi di Indonesia dan kita butuh untuk vokasi menyamakan standar kelautan dan aviasi, hubungan baik sudah berlangsung sejak 2003 dan akan ditingkatkan," ujarnya.

Sebelumnya, DPR RI telah resmi mengesahkan Undang-undang persetujuan Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Australia (IA-CEPA) pada 6 Februari 2020.

Ratifikasi itu menyusul penandatanganan kesepakatan IA-CEPA kedua negara yang dilakukan pada 4 Februari 2019 yang sudah dibicarakan selama 9 tahun.

Dalam perjanjian yang telah ditandatangani tersebut, Indonesia akan memangkas bea impor sebesar 94 persen untuk produk asal Negeri Kanguru secara bertahap. Sebagai gantinya 100 persen bea impor produk asal Indonesia yang masuk ke Australia akan dihapus.

Salah satu keuntungan Indonesia, antara lain dihapuskannya bea masuk impor seluruh pos tarif Australia sebanyak 6.474 pos menjadi nol persen.

Produk-produk Indonesia yang ekspornya berpotensi meningkat adalah produk otomotif, khususnya mobil listrik dan hybrid sebab IA-CEPA memberikan persyaratan kualifikasi konten lokal yang lebih mudah untuk kendaraan listrik dan hybrid asal Indonesia dibandingkan negara lainnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
australia

Sumber : Antara

Editor : David Eka Issetiabudi
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top