Brantas Abipraya Kaji IPO

Direktur Utama Brantas Abipraya Bambang E. Marsono mengatakan pihaknya sudah mengajukan izin kepada Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terkait rencana IPO. Bila mendapat restu tahun ini, IPO akan dilaksanakan pada 2021.
Rivki Maulana
Rivki Maulana - Bisnis.com 26 Januari 2020  |  14:17 WIB
Brantas Abipraya Kaji IPO
Bendungan yang dibangun Brantas Abipraya. - brantas/abipraya.co.id

Bisnis.com, JAKARTA - PT Brantas Abipraya (Persero) tengah mengkaji untuk melepas sebagian saham perseroan ke publik melalui penawaran umum perdana (initial public offering/IPO). IPO diharapkan bisa menjadi sumber pendanaan untuk pengembangan usaha.

Direktur Utama Brantas Abipraya  Bambang E. Marsono mengatakan pihaknya sudah mengajukan izin kepada Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terkait rencana IPO. Bila mendapat restu tahun ini, IPO akan dilaksanakan pada 2021.

“Kami perlu menambah equity untuk ekspansi, kira-kira kami perlu Rp3 triliun [untuk modal ekspansi],” ujarnya menjawab pertanyaan Bisnis, Jumat malam (24/1/2020).

Berdasarkan Laporan Tahunan Brantas Abipraya Tahun 2018, perusahaan yang didirikan pada 1980 ini memiliki aset Rp5,3 triliun dan ekuitas Rp1,57 triliun. Sepanjang 2018, Brantas Abipraya meraup pendapatan sebanyak Rp4,72 triliun dan mencetak laba bersih sebesar Rp357,35 miliar.

Bila rencana IPO berjalan mulus, Brantas Abipraya akan menambah daftar kontraktor pelat merah yang melantai di Bursa Efek Indonesia. Sebelumnya, sejumlah BUMN karya juga sudah melepas saham ke publik, antara lain PT Wijaya Karya (Persero) Tbk., PT Waskita Karya (Persero) Tbk., PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk., dan PT Adhi Karya (Persero) Tbk.

Secara umum, pasar konstruksi pada 2020 dinilai akan lebih menjanjikan dibandingkan dengan 2019. Bambang mengatakan, sepanjang 2020 Brantas Abipraya menargetkan perolehan kontrak baru Rp9,5 triliun. Ditambah dengan kontrak bawaan (carry over) Rp13,5 triliun, target kontrak Brantas Abipraya diharapkan mencapai Rp23 triliun pada 2020.

Menurut Bambang, tahun ini pasar konstruksi lebih prospektif karena pemerintah telah berkomitmen untuk melanjutkan agenda pembangunan infrastruktur dalam 5 tahun ke depan. Selain itu, agenda pembangunan ibu kota negara (IKN) juga menjadi peluang besar bagi kontraktor.

Sementara itu, sepanjang 2019 pasar konstruksi dinilai Bambang melambat karena para pemilik proyek cenderung wait and see seiring dengan pelaksanaan pemilihan umum. Walhasil, banyak proyek yang ditunda dan turut berdampak terhadap kinerja perolehan kontrak baru.

Pada 2019, Brantas Abipraya memperkirakan perolehan kontrak baru mencapai Rp6,2 triliun atau 77,5 persen dari target sebesar Rp8 triliun. Kendati demikian, Bambang menyebut secara keseluruhan kinerja perseroan tetap sesuai dengan ekspektasi.

Bambang menerangkan, perseroan tahun ini juga akan tetap mencari peluang baru dan melanjutkan diversifikasi usaha yang telah dimulai sejak 2011. Brantas Abipraya kini telah merambah sektor energi terbarukan, bidang peralatan, investasi jalan tol, beton pracetak, dan properti.

Hingga 2019, perolehan kontrak baru didominasi segmen pekerjaan gedung sebesar 46 persen, disusul segmen pengairan (29 persen), jalan dan jembatan (17 persen), dan segmen lainnya (8 persen). Kontrak dari pemerintah masih mendominasi dengan pangsa 51 persen, disusul kalangan swasta (30 persen), investasi sendiri (10 persen), dan BUMN (9 persen).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ipo, brantas abipraya

Editor : M. Taufikul Basari
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top