Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Simpang Siur Data Produksi Pengaruhi Kinerja Penggilingan Padi

Terus meningkatnya permintaan beras membuat persaingan pengusaha penggilingan padi kian ketat. Pasalnya, produksi produksi kerap berada di bawah kapasitas mesin.
Rezha Hadyan
Rezha Hadyan - Bisnis.com 10 Januari 2020  |  17:44 WIB
Petani merontokkan padi hasil panen di areal persawahan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Kamis (18/10/2018). - JIBI/Rachman
Petani merontokkan padi hasil panen di areal persawahan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Kamis (18/10/2018). - JIBI/Rachman

Bisnis.com, JAKARTA - Terus meningkatnya permintaan beras membuat persaingan pengusaha penggilingan padi kian ketat. Pasalnya, produksi produksi kerap berada di bawah kapasitas mesin.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Galuh Octania mengatakan  penyebab ketimpangan itu adalah simpang siurnya data produksi beras. Apabila para penggiling padi mengetahui jumlah padi yang akan digiling, menurutnya akan ada kalkulasi untuk mencegah kerugian.

"Keadaan ini sangat mungkin terjadi akibat dari miskalkulasi data yang telah terjadi selama beberapa waktu. Kalau dibiarkan terjadi terus menerus, tidak menutup kemungkinan pelaku usaha penggilingan padi akan mengalami kerugian," katanya melalui keterangan tertulis yang diterima Bisnis.com pada Jumat (10/1/2020).

Lebih lanjut, Galuh menjelaskan penyebab ketimpangan lainnya adalah rendahnya pasokan ke penggilingan yang disebabkan oleh beberapa hal, seperti musim kemarau di 2019 yang menyebabkan mundurnya masa tanam, keterbatasan produksi padi di awal tahun yang merupakan imbas dari musim penghujan, dan juga naiknya harga gabah di tingkat petani.

Galuh mengungkapkan walaupun naiknya harga gabah dianggap sebagai proses yang wajar dihadapi usaha penggilingan padi, namun tidak baik jika terus terjadi dan berulang.

“Kondisi seperti ini berpotensi menyebabkan harga tinggi. Akan banyak usaha penggilingan padi, terutama penggilingan berskala kecil yang dapat gulung tikar dikarenakan terbatasnya modal dan tidak mampu bersaing dengan pengusaha lain dengan mesin penggilingan yang lebih besar. Rendahnya hasil panen dimanfaatkan oleh petani untuk menaikkan harga gabah di tengah volume permintaan yang tetap atau cenderung naik,” tuturnya.

Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), per Desember 2019, tren harga gabah kering panen mengalami kenaikan ke angka Rp5.313 per kilogram dari bulan sebelumnya yang berada di level Rp5.203 per kilogram.

Oleh karena itu, sedari awal masa tanam, harus dipastikan pasokan padi dapat menghasilkan peningkatan volume pasokan beras pada saat panen. Hal ini harus memperhatikan faktor cuaca dikarenakan adanya indikasi hasil gabah yang akan turun akibat masa tanam dan panen yang mundur akibat tidak tentunya cuaca di Indonesia.

Selain itu, para pengusaha penggilingan padi juga harus terus berupaya untuk dapat beroperasi secara maksimal. Salah satu solusi yang dapat dilakukan adalah dengan bekerja sama dengan petani dalam hal harga dan kuantitas gabah yang akan diperjualbelikan. 

Perbaikan kapasitas mesin juga, lanjut Galuh, dapat dilakukan untuk mengantisipasi tingginya persaingan untuk memperoleh gabah berkualitas baik.

Menurutnya, pemerintah dapat membantu memberikan intervensi kebijakan untuk memindahkan pelaku ke pekerjaan lain yang justru masih membutuhkan kontribusi tenaga kerja tambahan atau mempermudah informasi mengenai kebutuhan pekerjaan. Alternatif ini tentu saja juga perlu diiringi dengan pelatihan di balai latihan kerja (BLK).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

padi produksi beras
Editor : Lucky Leonard
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top