Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

OPINI : Indikasi Mafia Migas Halangi Pembangunan Kilang

Ketua DPP Partai Hanura Inas N. Zubir merasa perlu membuat keterangan pers pada Selasa (31/12/2019) untuk membantah pernyataan saya di media sebelumnya. Pernyataan saya yang dibantah menyatakan bahwa mafia migas berada di balik peningkatan impor minyak dan penghalangan pembangunan kilang minyak.
Fahmy Radhi
Fahmy Radhi - Bisnis.com 03 Januari 2020  |  10:55 WIB
Kilang Cilacap milik Pertamina - Reuters/Darren Whiteside
Kilang Cilacap milik Pertamina - Reuters/Darren Whiteside

Ketua DPP Partai Hanura Inas N. Zubir merasa perlu membuat keterangan pers pada Selasa (31/12/2019) untuk membantah pernyataan saya di media sebelumnya.

Pernyataan saya yang dibantah menyatakan bahwa mafia migas berada di balik peningkatan impor minyak dan penghalangan pembangunan kilang minyak. Entah mewakili dirinya sendiri atau pihak lain, anggota DPR periode 2014-2019 tersebut bahkan mengatakan bahwa pernyataan saya tersebut sangat sesat karena masyarakat akan berpendapat bahwa dengan dibangunnya kilang minyak, maka Indonesia dipastikan akan berhenti impor minyak.

Pernyataan Inas itu sesungguhnya mengatakan bahwa pernyataan Presiden Joko Widodo sebelumnya juga sangat sesat. Pasalnya, dalam beberapa kesempatan, Jokowi tidak dapat menyembunyikan kejengkelannya atas kondisi Indonesia yang disebut hobi impor minyak dan ketidakmampuan dalam membangun kilang. 

Jokowi meyakini bahwa mafia migas di balik peningkatan impor dan kegagalan pembangunan kilang minyak. Presiden Jokowi mengatakan bahwa sudah mengetahui oknum mafia migas itu, yang akan “digigit” kalau tetap saja mengganggu upaya pemerintah untuk menurunkan impor minyak dengan pembangunan kilang.

Pernyataan saya sebelumnya sebenarnya mengatakan bahwa pernyataan Jokowi tentang mafia migas di balik peningkatan impor migas dan penghalangan pembangunan kilang telah mengonfirmasi hasil temuan Tim Anti Mafia Migas sebelumnya. Hasil kajian tim menyimpulkan bahwa mafia migas berburu rente pada impor BBM melalui bidding dan blending dengan menggunakan Petral yang mendapatkan hak monopoli impor BBM Indonesia.

Memang dalam bidding pengadaan impor BBM Petral melakukan secara online, tetapi tim menemukan keanehan bahwa pemenang bidding selalu national oil company (NOC) dari negara-negara bukan penghasil minyak, di antaranya NOC Italia, Vietnam, dan Maldives. NOC itu ternyata digunakan sebagai frontier saja dalam bidding, sedangkan pemasok BBM ke Petral adalah perusahaan lain di Singapura yang ditengarai berafiliasi dengan oknum mafia migas.

NOC itu dapat memenangkan tender lantaran mendapat informasi dari orang dalam Petral atas tawaran harga NOC lainnya sehingga NOC frontier tersebut dapat menawarkan harga lebih rendah untuk memenangkan tender. Modus ini akhirnya terungkap pada saat KPK menetapkan tersangka mantan Direktur Petral setelah 5 tahun KPK melakukan penyidikan dan penyelidikan.

Agar tetap dapat berburu rente pada impor minyak, ada indikasi bahwa mafia migas melakukan upaya sistemik untuk menghalangi pembangunan kilang minyak di Indonesia. Tidak mengherankan kalau hampir 30 tahun Pertamina tidak dapat membangun Kilang.

Padahal, kilang yang dioperasikan Pertamina selama ini merupakan kilang-kilang yang sudah tua renta. Bahkan, kilang yang dibangun pada zaman penjajahan Belanda masih digunakan, antara lain kilang Balikpapan (1894) dan kilang Plaju (1903). Sementara itu, kilang minyak yang dibangun Pertamina umumnya juga sudah relatif tua, di antaranya Kilang Dumai (1971), Kilang Cilacap (1976), serta Kilang Kasim (1997).

Bukannya tidak ada upaya Pertamina sama sekali untuk pengembangan eksisting kilang minyak dalam proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) di Cilacap yang bekerjasama dengan Saudi Aramco, maupun pembangunan kilang minyak baru atau Grass Root Refinery (GRR) di Bontang yang bekerja sama dengan OOG Oman.

Namun, setiap kali kedua upaya itu dilakukan, selalu saja muncul hambatan sistemik untuk merealisasikannya hingga pembangunan kilang kandas di tengah jalan.

Sebelumnya, Tim Anti Mafia Migas juga menemukan adanya indikasi penghalangan pembangunan kilang minyak. Pernah terjadi kesepakatan antara Pertamina dengan investor untuk membangun kilang dengan salah satu syaratnya investor itu harus mendapatkan fiscal incentives

Namun, tanpa alasan yang jelas pengajuan fiscal incentives ditolak oleh Departemen Keuangan. Pernah juga terjadi, sudah ada kesepakatan antara Pertamina dengan investor dan Departemen Keuangan sudah pula menyetujui permintaan tax holiday, namun rencana pembangunan kilang tersebut kandas di Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.

Berdasarkan rentetan peristiwa tersebut semakin menguatkan indikasi bahwa mafia migas di balik peningkatan impor minyak dan penghalangan pembangunan kilang minyak seperti yang dinyatakan oleh Jokowi. Pernyataan Jokowi itu tentunya ada dasar kuat dan informasi akurat bahwa mafia migas memang benar di balik peningkatan impor minyak dan penghalangan pembangunan kilang minyak.

Untuk menghalau mafia migas itu, Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri bakal mengawal pembangunan sejumlah kilang minyak Pertamina hingga selesai. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi adanya mafia migas dalam penghalangan pembangunan kilang tersebut.

Kepala Bareskrim Polri Listyo Sigit Prabowo mengatakan pembangunan kilang ini terhambat oleh adanya mafia migas.

Inas benar bahwa pembangunan kilang minyak memang tidak serta merta menghentikan impor minyak sama sekali. Produksi minyak sebanyak 775.000 barel per hari, sedangkan konsumsi mencapai lebih 1,5 juta barel per hari sehingga saat ini masih diperlukan impor antara 700.000-800.000 barel per hari. 

Dengan dibangunnya kilang minyak akan dapat menghentikan impor BBM, tetapi masih dibutuhkan impor crude oil sebagai feeding kilang minyak tersebut. Namun, seiring dengan upaya SKK Migas untuk menaikkan lifting minyak hingga mencapai 1 juta barel per hari, impor minyak dapat diturunkan secara drastis sehingga dapat menekan defisit neraca migas.

Lepas mewakili dirinya sendiri atau pihak lain, saya mengapresiasi keterangan pers Inas yang menyanggah pernyataan saya di media dengan pernyataan di media pula. Kendati Inas lama sebagai anggota DPR, tetapi sanggahan melalui media tersebut sangat akademis yang diharapkan dapat memicu debat publik terkait kebenaran mafia migas di balik peningkatan impor dan penghalangan pembangunan kilang minyak. 

Penulis adalah pengamat ekonomi energi UGM dan mantan anggota Tim Anti Mafia Migas

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kilang minyak mafia migas
Editor : Lucky Leonard
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top