Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Teknologi Tertinggal Bikin Industri Tekstil Tak Efisien

Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) menyatakan nilai kain impor selalu lebih besar dari penjualan kain domestik setidaknya sejak 2014.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 30 Desember 2019  |  22:00 WIB
Teknologi Tertinggal Bikin Industri Tekstil Tak Efisien
ilustrasi. - JIBI/Nurul Hidayat
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Terlambatnya adopsi teknologi baru dinilai memicu inefisiensi sektor tekstil dan produk tekstil (TPT). Alhasil produk lokal cenderung kalah bersaing dengan barang impor.

Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) menyatakan nilai kain impor selalu lebih besar dari penjualan kain domestik setidaknya sejak 2014. Adapun, lonjakan volume kain impor mulai terasa pada 2016 atau naik sekitar 10,09% menjadi sekitar 698.000 ton.

Adapun, angka tersebut meningkat pada tahun ini mendekati angka 1 juta ton atau tumbuh sekitar 12,35% secara tahunan. Kapasitas yang berlebih dan insentif ekspor pemerintah membuat kain Negeri Tirai Bambu memiliki harga yang sangat kompetitif di dalam negeri atau hingga 20% dari kain lokal.

Ketua Umum API Ade Sudrajat mengatakan tingginya daya saing kain dari China tersebut disebabkan oleh tingginya efisiensi mesin yang digunakan. Menurutnya, salah satu yang menyebabkan rendahnya efisiensi mesin pabrikan tekstil adalah paradigma pelaku industri kain yang kuno.

“Industri kain dari hulu—dari serat—sampai dengan kain belum mengikuti tren teknologi. Hasilnya kehilangan efisiensi. Teknologi juga bermain, apalagi sekarang mengarah ke industri 4.0. Industri tekstil kita masih terlena dengan paradigma lama,” katanya kepada Bisnis, Senin (30/12/2019).

Sekretaris Jenderal API Jawa Barat Rizal Rakhman berujar rendahnya efisiensi mesin di pabrikan salah satunya disebabkan oleh tidak selarasnya pihak fasilitas pendidikan dan riset tekstil dengan pihak industri. Rizal menyatakan keduanya selama ini masih berjalan sendiri-sendiri.

Kendati demikian, secara konsolidasi Rizal menyampaikan kondisi produksi TPT—khususnya industri kecil dan menengah (IKM)—masih menunjukkan tren positif. Menurut Badan Pusat Statistik indeks produksi IKM pakaian jadi sepanjang 2011—2018 tumbuh 51,92%. Sementara itu, indeks produksi pada kuartal III/2019 tumbuh 3,66% menjadi 163,63.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

industri tpt
Editor : Galih Kurniawan
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top