Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Evaluasi Industri Plastik Tahun 2019

“Kenapa ramai [penggunaan istilah itu]? Karena Indonesia manajemen pengelolaan sampanya kurang benar. Masih dicampur. Kita konsumsi [plastik] per kapita baru 23Kg, Singapura sudah 60Kg, Malaysia 60Kg. 23Kg saja Indonesia sudah kelabakan, soalnya manajemen [sampah] tidak diperbaiki,” katanya kepada Bisnis akhir pekan lalu.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 30 Desember 2019  |  01:59 WIB
Evaluasi Industri Plastik Tahun 2019
Ilustrasi-tas belanja - kgns.tv

Bisnis.com, JAKARTA – Asosiasi Aromatik, Olefin, dan Plastik (Inaplas) mencatat setidaknya ada tiga evaluasi pada ekosistem industri plastik pada 2019.

Adapun, tiga evaluasi tersebu adalah lambatnya perkembangan aditif, rendahnya industri pengguna plastik daur ulang, dan minimnya manajemen sampah. 
Sekretaris Jenderal Inaplas Fajar Budiyono mengatakan istilah plastik sekali pakai tidak relevan untuk digunakan di dalam negeri. Pasalnya, bahkan sebelum pemerintah mengakuinya, pemulung mengumpulkan sampah plastik untuk digunakan kembali. 

“Kenapa ramai [penggunaan istilah itu]? Karena Indonesia manajemen pengelolaan sampanya kurang benar. Masih dicampur. Kita konsumsi [plastik] per kapita baru 23Kg, Singapura sudah 60Kg, Malaysia 60Kg. 23Kg saja Indonesia sudah kelabakan, soalnya manajemen [sampah] tidak diperbaiki,” katanya kepada Bisnis akhir pekan lalu. 

Alhasil, tingkat daur ulang plastik di dalam negeri masih rendah. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat tingkat daur ulang plastik berada di sekitar level 14%, sedangkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menunjukkan tingkat daur ulang plastik secara keseluruhan baru 7%.
Fajar meragukan keabsahan data tingkat daur ulang tersebut. Adapun, Fajar menyampaikan rendahnya tingkat daur ulang plastik di dalam negeri tercermin pada rendahnya utilitas pabrikan daur ulang plastik yakni di sekitar 70%. 

Sementara itu, Fajar menilai beleid pelarangan kantong plastik dan cukai plastik makin mencederai pabrikan plastik daur ulang. Pasalnya, sebagian besar bahan baku kantong plastik merupakan plastik daur ulang. 

Inaplas mencatat industri kantong plastik menyerap 6,5% dari total konsumsi bijih plastik nasional, volume yang diserap mencapai 366.000 ton. Selain itu, industri kantong plastik menyerap sekitar 30.000 tenaga kerja. 

Fajar menyatakan dengan perkembangan teknologi kini telah ada mesin yang dapat mendaur ulang semua jenis plastik pada saat yang bersamaan. Seperti diketahui, sebelumnya mendaur ulang plastik dengan jenis aditif yang berbeda dapat merusak mesin. 

Adapun, kemasan yang dihasilkan dari plastik daur ulang tersebut dikenal dengan smart packaging. Menurutnya, peran industri pengguna plastik daur ulang sangat besar untuk meningkatkan adopsi mesin tersebut di dalam negeri. 

“Dari sisi teknologi itu tidak terlalu signifikan investasinya. Masalahnya pasarnya saja. Kalau itu dimulai dari industri besar kayak Nestle dan Danone, yang lain akan ikut, itu yang harus kita dorong. Pioneernya industri besar tadi,” paparnya. 

Namun demikian, Fajar berujar political will pelaku industri multinasional di dalam negeri, seperti Coca-cola dan Unilever, masih rendah. Menurutnya, kedua pabrikan tersebut telah aktif menggunakan bahan baku plastik daur ulang, namun belum terlihat di dalam negeri. 

“Secara filosofis, secara prinsip [mereka] setuju dan mau [menggunakan plastik daur ulang]. Cuma implementasinya yang menurut saya masih [kurang terlihat],” katanya. 

Pada industri hulu plastik, Fajar menilai pabrikan domestik harus menggenjot inovasi aditif plastik yang dapat meningkatkan efisiensi penggunaan bahan baku dan memperbesar ekonomi sirkuler industri plastik. 
Produksi 2020

Tahun depan, Fajar mengatakan pertumbuhan produksi industri plastik akan tetap organik atau mengikuti pertumbuhan ekonomi nasional. Namun demikian, Fajar menilai PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) dapat menjadi katalis percepatan produksi. 

Seperti diketahui, TPPI diproyeksikan dapat memproduksi benzene, toluene, dan xylene (BTX) sejumlah 1,2 juta ton per tahun. Adapun, BTX merupakan bahan baku kimia dasar yang dapat menggenjot produksi industri non-pangan seperti tekstil dan ban. 

Setelah memproduksi BTX, Fajar mengatakan TPPI juga akan memproduksi olefin dari pengolahan light naphta sekitar 500.000 ton—1 juta ton per tahun. Namun demikian, lanjutnya, hal tersebut masih menunggu langkah pemerintah apakah light naphta tersebut akan dicampurkan dengan bahan bakar atau menjadi bahan baku. 

“[Tapi,] masih impor [Nafta] tetap karena PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. bisa 5 juta ton pada 2023. [Kalau] PT Lotte Chemical Titan Nusantara 2 jutaan, itu [kebutuhan] Naftanya. Nanti dari Nafta keluar olefin,” jelasnya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

plastik
Editor : Andhika Anggoro Wening

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top