Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Produksi Cairan Vape Tumbuh Pesat

Ketua Bidang Organisasi APVI Garindra Kartasasmita menyatakan produksi cairan vape pada tahun ini mencapai 5 juta botol per bulan dari realisasi tahun lalu rata-rata 2,5 juta botol per bulan.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 27 Desember 2019  |  19:52 WIB
Pekerja menata botol berisi cairan rokok elektrik (vape) di Jakarta. - ANTARA
Pekerja menata botol berisi cairan rokok elektrik (vape) di Jakarta. - ANTARA

Bisnis.com, JAKARTA – Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia (APVI) menyatakan produksi cairan vaporizer (vape) sepanjang tahun ini meningkat dua kali lipat dari realisasi tahun lalu.

Ketua Bidang Organisasi APVI Garindra Kartasasmita menyatakan produksi cairan vape pada tahun ini mencapai 5 juta botol per bulan dari realisasi tahun lalu rata-rata 2,5 juta botol per bulan. Adapun, pengguna vape saat ini telah melebihi target asosiasi pada awal tahun yakni 1 juta pengguna.

“Kayaknya sudah [menjadi] 2,5 juta lebih [pengguna], tapi belum ketemu [angka] pastinya. Sejak ada saltnic [nikotin garam] dalam pod [system] pergerakannya cukup masif. Banyak [perokok konvensional] yang switch ke vape,” katanya kepada Bisnis belum lama ini.

Garindra mengatakan pada tahun lalu pengguna vape baru sekitar 1,2 juta orang. Dengan kata lain, tahun ini setidaknya ada pengguna vape baru sekitar 1,3 juta orang. Menurutnya, sekitar 80% dari pengguna baru tersebut merupakan pengguna pod system yang menggunakan cairan nikotin garam.

Garindra mengatakan komposisi produksi cairan vape saat ini bergeser dari 80:20 untuk cairan nikotin rendah menjadi 50:50. Menurutnya, komposisi produksi pada tahun depan akan didominasi oleh produksi cairan vape yang menggunakan nikotin garam.

Walaupun produksi cairan vape bertambah, Garindra mengatakan nilai cukai yang disetor ke pemerintah justru mengalami penurunan. Pasalnya, penjualan cairan dengan nikotin garam berukuran lebih kecil yakni 15ml dan 30 ml, sedangkan cairan dengan nikotin rendah pada ukuran 60ml dan 100ml.

Perbedaan ukuran botol tersebut membuat cukai yang disetor berbeda walaupun harga jual antara cairan dengan nikotin garam dan nikotin rendah sama. Seperti contoh, satu botol cairan nikotin garam 15ml dan cairan nikotin rendah 60ml sama-sama dijual di rentang Rp70.000—Rp90.000. Namun, cukai yang dikenakan pada cairan dengan nikotin garam lebih rendah hingga 50% walau presentasi cukai yang dikenakan masih 54%.

PT NCIG Indonesia Mandiri menyatakan peningkatan pengguna lebih dari dua kali lipat disebabkan oleh maraknya pemain vape sistem tertutup yang masuk ke dalam negeri. Alhasil, edukasi kepada konsumen pun lebih masih dan konsumen memiliki banyak pilihan.

“Permintaan dari NCIG sendiri responnya positif. Kami lagi persiapan launching varian yang kedua. Secara produksi kami belum ada target kepada penambahan produksi karena kami fokus kepada varian kedua,” kata Preside Director NCIG Indonesia Roy Lefrans Wungow kepada Bisnis.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Industri Vape
Editor : Galih Kurniawan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top