Kerek Laju Ekonomi, Investasi Indonesia Harus Tumbuh Minimal 8 Persen

Ari menambahkan untuk saat ini angka pertumbuhan ekonomi yang realistis adalah 5,5% per tahun. Dengan begitu, pertumbuhan investasi ialah 8%—9% per tahun.
Pandu Gumilar
Pandu Gumilar - Bisnis.com 09 Desember 2019  |  18:04 WIB
Kerek Laju Ekonomi, Investasi Indonesia Harus Tumbuh Minimal 8 Persen
Rektor Universitas Indonesia Ari Kuncoro saat memberikan paparan dalam acara diskusi panel pada gelaran BNI-Bisnis Indonesia Business Challenges 2020, di Jakarta, Senin (9/12/2019). Bisnis - Fahmi Achmad

Bisnis.com, JAKARTA - Pemerintah Indonesia diharapkan mampu menggenjot investasi sebesar 8%—9% per tahun supaya pertumbuhan ekonomi terkerek ke kisaran 5,5%.

Rektor Universitas Indonesia Ari Kuncoro mengatakan investasi yang masuk ke Indonesia tercatat naik sebesar 4,21% pada kuartal III/2019.

Ari mengungkapkan dengan asumsi kontribusi konsumsi 59% terhadap produk domestik bruto [PDB] yang tumbuh rerata 5% per tahun serta porsi investasi 32% dari PDB. 

Dengan asumsi jeda antara produksi dan investasi 2 tahun, maka diperlukan pertumbuhan investasi paling tidak 10% untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 6% per tahun.

"Angka ini kelihatan masuk akal, tetapi ini adalah hal yang berat mengingat pertumbuhan investasi riil tertinggi sejak 2013 adalah 7,94% year-on-year pada kuartal III/2018," paparnya pada Senin (9/12) pada acara BNI-Bisnis Indonesia Business Challenges 2020.

Ari menambahkan untuk saat ini angka pertumbuhan ekonomi yang realistis adalah 5,5% per tahun. Dengan begitu, pertumbuhan investasi ialah 8%—9% per tahun.

"Untuk mencapai hal itu pun bukan tugas yang mudah kalau dengan cara yang konvensional. Maka itu diperlukan reorganisasi mesin pertumbuhan secara out of the box," ungkapnya.

Adapun yang menjadi sentimen negatif bagi masuknya aliran modal asing ke Indonesia ialah tidak selarasnya antara kebijakan pusat dengan daerah. Oleh sebab itu, kawasan ekonomi khusus harus dioptimalkan.

Pada saat ini, lanjutnya, ekonomi Indonesia dapat tumbuh sampai angka 5,8%. Lebih dari itu terdapat berisiko bagi devisa negara karena kebutuhan bahan bahan baku musti diimpor.

Sementara itu, Ketua Umum Pengusaha Indonesia (APINDO) Hariyadi Sukamdani mengatakan ada masih banyak potensi ekonomi yang bisa digali dalam negeri.

Menurutnya, dalam menghadapi situasi ekonomi domestik dan global sekarang ini pebisnis perlu berpegang terhadap prinsip kehati-hatian dalam mengelola risiko bisnis.

"Alhasil, dengan prinsip kehati-hatian dan keyakinan akan terjadinya perkembangan ekonomi yang positif ini, diharapkan tidak ada lagi sikap wait and see berlebihan dalam merespons prospek perekonomian Tanah Air," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
investasi, Pertumbuhan Ekonomi

Editor : Ana Noviani
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top