Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Business Challenges 2020 : Saatnya Gali Potensi Bukan Wait and See

Dalam menghadapi situasi ekonomi domestik dan global sekarang ini pebisnis perlu berpegang terhadap prinsip kehati-hatian dalam mengelola risiko bisnis.
Pandu Gumilar
Pandu Gumilar - Bisnis.com 09 Desember 2019  |  13:52 WIB
Komisaris PT Jurnalindo Akasara Grafika penerbit Harian Bisnis Indonesia Hariyadi Sukamdani memberikan sambutan saat acara Malam Apresiasi Bisnis Indonesia Financial Award (BIFA) 2019 di Jakarta, Jumat (20/9)./JIBI - Bisnis/Arief Hermawan P
Komisaris PT Jurnalindo Akasara Grafika penerbit Harian Bisnis Indonesia Hariyadi Sukamdani memberikan sambutan saat acara Malam Apresiasi Bisnis Indonesia Financial Award (BIFA) 2019 di Jakarta, Jumat (20/9)./JIBI - Bisnis/Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA - Asosiasi Pengusaha Indonesia berharap pebisnis dalam negeri tidak lagi bersikap pasif yang berlebihan.

Pada pembukaan acara BNI-Bisnis Indonesia Business Challenges 2020, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) sekaligus Presiden Komisaris Bisnis Indonesia, Hariyadi Sukamdani mengatakan masih banyak potensi ekonomi yang bisa digali dalam negeri.

Menurutnya, dalam menghadapi situasi ekonomi domestik dan global sekarang ini pebisnis perlu berpegang terhadap prinsip kehati-hatian dalam mengelola risiko bisnis.

"Alhasil, dengan prinsip kehati-hatian dan keyakinan akan terjadinya perkembangan ekonomi yang positif ini, diharapkan tidak ada lagi sikap wait and see berlebihan dalam merespons prospek perekonomian Tanah Air," katanya pada Senin (9/12).

Hariyadi menambahkan pemerintah membidik pertumbuhan ekonomi dalam APBN 2020 sebesar 5,3%. Dia optimistis hal itu dapat tercapai sebab Tim Ekonomi dalam Kabinet Indonesia Maju sudah mulai bekerja.

Selain itu, pada 2020 pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 akan mulai bergulir. Menurutnya, hal itu juga merupakan momentum awal bagi Indonesia untuk memulai tahapan pembangunan dalam mewujudkan visi jangka panjang.

Pasalnya, sejauh ini perekonomian Indonesia yang stabil di kisaran 5% masih mengandalkan konsumsi domestik sebagai penopang utama, selain kontribusi dari belanja pemerintah, ekspor dan investasi.

Hariyadi mengatakan ekonomi yang ditopang oleh konsumsi sebenarnya baik. Terlebih lagi, sejumlah negara terutama dengan mayoritas penduduk tua justru mendambakan perekonomian yang bisa ditopang dari konsumsi.

"Akan tetapi, mengingat begitu besarnya potensi yang masih bisa digali, perekonomian Indonesia memerlukan dorongan dari investasi dan kinerja ekspor yang optimal selain dari sisi konsumsi," sebutnya.

Dengan demikian, dia berharap pertumbuhan ekonomi ke depan akan semakin berkualitas karena telah memiliki modal dasar berupa keberadaan bonus demografi yang dimiliki.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

investasi Pertumbuhan Ekonomi
Editor : Ana Noviani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top