Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Teknologi Mampu Lipat Gandakan PDB Indonesia hingga US$2,8 Triliun

Dalam The 9th Annual International Forum on Economic Development and Public Policy (AIFED) yang diselenggarakan oleh BKF, Kamis (5/12/2019), ADB Country Economist Yurendra Basnett mengatakan produktivitas yang rendah dari sektor manufaktur berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Muhamad Wildan
Muhamad Wildan - Bisnis.com 06 Desember 2019  |  15:04 WIB
Bupati Musi Banyuasin Dodi Reza (kanan) saat mengunjungi Kampus Institut Teknologi Bandung (ITB) terkait kerjasama dalam pengelolaan kelapa sawit menjadi biofuel beberapa waktu lalu. - Istimewa
Bupati Musi Banyuasin Dodi Reza (kanan) saat mengunjungi Kampus Institut Teknologi Bandung (ITB) terkait kerjasama dalam pengelolaan kelapa sawit menjadi biofuel beberapa waktu lalu. - Istimewa

Bisnis.com, NUSA DUA – Hasil penelitian Asian Development Bank (ADB), Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu, Center for Strategic International Studies (CSIS), dan Institute for Manufacturing University of Cambridge mengungkapkan bahwa teknologi mampu menambahkan nilai PDB Indonesia hingga US$2,8 triliun pada 2040.

Dalam The 9th Annual International Forum on Economic Development and Public Policy (AIFED) yang diselenggarakan oleh BKF, Kamis (5/12/2019), ADB Country Economist Yurendra Basnett mengatakan produktivitas yang rendah dari sektor manufaktur berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Secara lebih khusus, hingga saat ini masih sedikit korporasi manufaktur Indonesia yang mengadopsi teknologi tinggi sehingga proses produksi menjadi tidak efisien. Dari keseluruhan industri yang disurvei, hanya 6% yang mengadopsi teknologi tinggi.

Untuk menyelesaikan masalah ini, ada lima langkah yang perlu dilakukan oleh Indonesia. Pertama, perlu ada infrastruktur inovasi yang maju dan bisa menghubungkan riset dengan dunia usaha.

"Kita menemukan bahwa ada titik tengah yang hilang. Riset memang ada, dan di sisi yang lain ada korporasi, tetapi tidak ada yang menghubungkan keduanya," ujar Yurendra, Kamis (5/12/2019).

Diperlukan suatu rencana jangka panjang untuk investasi riset dan teknologi serta menyiapkan regulasi yang mampu mendukung rencana jangka panjang riset tersebut.

Kedua, perlu dibangkitkan suatu kesadaran atas manfaat teknologi terhadap bisnis. Untuk melaksanakan ini, diperlukan suatu mekanisme yang memungkinkan timbulnya pertukaran teknologi antarkorporasi yang termasuk dalam rantai pasok.

Universitas juga perlu mengembangkan fasilitas riset dan teknologi di lingkungan masing-masing.

Ketiga, perlu dukungan oleh pemerintah untuk mendukung transfer pengetahuan dan teknologi. Setiap korporasi memiliki kebutuhan dan memerlukan penanganan yang berbeda agar adopsi teknologi bisa dipercepat.

Korporasi besar dan yang sudah mengadopsi teknologi tinggi perlu didorong untuk terus mengembangkan teknologi baru. Adapun sebagian besar korporasi yang masih belum sepenuhnya mengadopsi penggunaan teknologi juga perlu didorong untuk mengadopsi teknologi baru dan didorong untuk berinovasi.

Adapun kelompok korporasi yang hingga saat ini masih mengadopsi teknologi lama perlu didorong untuk lebih mengefisienkan manajemen industrinya dan mulai memperkenalkan diri kepada teknologi baru.

Keempat, korporasi perlu untuk mengutamakan fasilitas teknologi yang murah dan selama ini sudah banyak tersedia.

Kelima, tenaga kerja yang tersedia perlu dikembangkan agar mampu beradaptasi dengan teknologi terbaru dan menyelesaikan pekerjaan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

teknologi
Editor : Achmad Aris
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top