Pengusaha Patin Pacu Produksi Selepas Kemarau Panjang

Pembudidaya patin mengejar target produksi jelang akhir tahun setelah sempat tersendat ketika kemarau panjang yang melanda hampir di seluruh wilayah Indonesia. 
Desyinta Nuraini
Desyinta Nuraini - Bisnis.com 04 Desember 2019  |  10:49 WIB
Pengusaha Patin Pacu Produksi Selepas Kemarau Panjang
Ikan patin - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA — Pembudidaya patin mengejar target produksi jelang akhir tahun setelah sempat tersendat ketika kemarau panjang yang melanda hampir di seluruh wilayah Indonesia. 

Pada September lalu, di Tulungagung, Jawa Timur, misalnya, biasanya hasil budi daya patin sekitar 1.500 ton-1.800 ton/bulan. Namun, karena kemarau berkepanjangan, produksi 7 bulan berikutnya diprediksi menurun menjadi sekitar 1.100 ton hingga 1.300 ton per bulan. 

Ketua Bidang Budidaya Patin Asosiasi Pengusaha Catfish Indonesia (APCI) Imza Hermawan mengatakan di tengah musim hujan yang baru saja datang, para pembudidaya mengejar pembenihan agar produksi bisa stabil kembali.

“Permintaan benih mulai ada juga untuk luar Jawa. Patin peliharaannya selama 7 bulan. Jadi, kalau ada gangguan kemarau 2-3 bulan, bisa dikejar [target produksi],” ujarnya kepada Bisnis, baru-baru ini. 

Imza menerangkan pemerintah dalam hal ini Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), mematok produksi patin pada 2019 sekitar 400.000 ekor. 

Sebelumnya, produksi ikan patin nasional pada 2018 sebanyak 391.151 ekor. Dari total produksi tersebut, sebanyak 90% sebetulnya sudah dikonsumsi oleh pasar domestik baik penjualan langsung ke kafe dan restoran maupun ke pasar ritel di supermarket dengan bentuk fillet

Khusus produksi patin fillet, rerata per pengusaha ikan patin menyuplai sekitar 1.000 ton-2.000 ton/bulan untuk pasar modern dan tradisional.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ikan patin, kemarau

Editor : Lucky Leonard
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top