BI : November 2019, Inflasi Masih Rendah dan Terjaga

Bank Indonesia menilai, inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada November 2019 tetap rendah dan terkendali dengan pencapaian sebesar 0,14% (mtm).
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 04 Desember 2019  |  02:51 WIB
BI : November 2019, Inflasi Masih Rendah dan Terjaga
Logo Bank Indonesia. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Bank Indonesia menilai, inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada November 2019 tetap rendah dan terkendali dengan pencapaian sebesar 0,14% (mtm).

Junanto Herdiawan, Direktur Departemen Komunikasi Bank Indonesia menyatakan kondisi ini ditopang oleh inflasi kelompok inti yang melambat dan inflasi kelompok administered prices yang stabil. Dengan perkembangan tersebut, inflasi IHK sampai dengan November 2019 mencapai 2,37% (ytd), atau secara tahunan tercatat 3,00% (yoy), menurun dibandingkan dengan inflasi Oktober 2019 sebesar 3,13% (yoy).

“Bank Indonesia tetap konsisten menjaga stabilitas harga dan memperkuat koordinasi kebijakan dengan Pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah, guna memastikan inflasi terjaga dalam kisaran sasaran,” ujar Junianto melalui siaran pers, Rabu (3/12/2019).

Dia menyatakan, Bank Indonesia memprakirakan inflasi yang rendah akan berlanjut sehingga inflasi IHK 2019 berada di sekitar 3,1% dan tetap terjaga dalam kisaran sasaran 3,0±1% pada 2020. Apalagi, inflasi inti melambat, sehingga menopang terkendalinya inflasi IHK. Inflasi inti tercatat sebesar 0,11% (mtm), lebih rendah dibandingkan dengan inflasi bulan sebelumnya sebesar 0,17% (mtm).

Berdasarkan komoditas, melambatnya inflasi inti terutama didukung oleh kembali normalnya harga mie dan nasi dengan lauk yang pada bulan sebelumnya menjadi penyumbang inflasi. Sementara itu, komoditas lainnya seperti tarif kontrak rumah dan tarif sewa rumah menjadi penyumbang inflasi inti pada November 2019.

Secara tahunan, inflasi inti tercatat sebesar 3,08% (yoy), menurun dibandingkan dengan inflasi pada Oktober 2019 sebesar 3,20% (yoy). Dia menilai, inflasi inti yang terkendali tidak terlepas dari ekspektasi inflasi yang baik seiring dengan konsistensi kebijakan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas harga, permintaan agregat yang terkelola baik, nilai tukar yang bergerak sesuai dengan fundamentalnya, dan pengaruh harga global yang minimal.

“Inflasi kelompok administered prices terpantau stabil dengan nilai yang tercatat sebesar 0,03% (mtm), atau sama dibandingkan dengan inflasi pada bulan sebelumnya,” sambung Junianto.

Menurutnya, inflasi yang tercatat stabil dipengaruhi oleh kenaikan inflasi komoditas aneka rokok di tengah berlanjutnya deflasi angkutan udara. Meningkatnya inflasi aneka rokok merupakan dampak lanjutan dari pengumuman kebijakan kenaikan cukai rokok pada 2020.

Sementara itu, tarif angkutan udara mengalami deflasi seiring pola musiman penurunan permintaan. Secara tahunan, inflasi kelompok administered prices tercatat sebesar 1,08% (yoy), menurun dibandingkan dengan 1,58% (yoy) pada bulan sebelumnya.

Untuk kelompok volatile food mencatat inflasi sebagaimana pola musimannya dengan pencatatan inflasi sebesar 0,42% (mtm), setelah pada bulan sebelumnya mencatat deflasi 0,47% (mtm). Inflasi pada kelompok volatile food terutama didorong oleh kenaikan harga komoditas bawang merah, tomat sayur, tomat buah, daging ayam ras, telur ayam ras, bayam,dan jeruk.

“Inflasi pada komoditas bawang merah dan sayur-sayuran terutama disebabkan oleh mundurnya periode tanam akibat kemarau panjang,” terangnya.

Sementara itu, inflasi pada komoditas daging ayam ras dan telur ayam ras didorong oleh meningkatnya permintaan menjelang akhir tahun sesuai dengan pola musimannya.

Secara tahunan, inflasi kelompok volatile food tercatat sebesar 5,02% (yoy), sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi bulan sebelumnya sebesar 4,82% (yoy).

Jika berkaca dari Laporan Kebijakan Moneter Triwulan III/2019 dari Bank Indonesia, memasuki kuartal IV/2019, inflasi IHK tetap terkendali pada level yang rendah dan stabil. Inflasi IHK pada Oktober 2019 tercatat 0,02% (mtm), setelah pada bulan sebelumnya deflasi 0,27% (mtm).

Inflasi yang tetap rendah tersebut ditopang oleh menurunnya inflasi pada kelompok inti dan deflasi pada kelompok volatile food. Sementara itu, inflasi administered prices tercatat stabil. Inflasi inti yang menurun terutama dipengaruhi oleh melambatnya harga emas perhiasan, sedangkan komoditas lainnya seperti mi serta nasi dan lauk masih menjadi penyumbang inflasi. Sementara itu, kelompok volatile food kembali mengalami deflasi ditopang oleh ketersediaan pasokan yang memadai seiring dengan masuknya periode panen.

Pada sisi lain, inflasi kelompok administered prices tercatat stabil disumbang terutama oleh komoditas rokok sejalan dengan kenaikan harga cukai rokok secara gradual di tengah berlanjutnya deflasi tarif angkutan udara.

“Dengan perkembangan tersebut, inflasi IHK sampai dengan bulan Oktober 2019 mencapai 2,22% (ytd), atau secara tahunan tercatat 3,13% (yoy), menurun dibandingkan dengan inflasi September 2019 sebesar 3,39% (yoy),” tulis Bank Indonesia.

Inflasi inti terus menurun sehingga menopang terkendalinya inflasi IHK. Inflasi inti tercatat sebesar 0,17% (mtm) pada Oktober 2019, lebih rendah dibandingkan dengan inflasi pada bulan sebelumnya sebesar 0,29% (mtm).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bank indonesia, Inflasi

Editor : Akhirul Anwar
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top