Berjuang di Konferensi Perubahan Iklim, Indonesia Bawa 70 Negosiator

Pemerintah Indonesia membawa puluhan negosiator untuk penanggulangan perubahan iklim pada Konferensi Perubahan Iklim (Climate Change Conference/COP) ke-25 di Madrid, Spanyol, yang berlangsung pada 2-13 Desember 2019.
Desyinta Nuraini
Desyinta Nuraini - Bisnis.com 02 Desember 2019  |  11:50 WIB
Berjuang di Konferensi Perubahan Iklim, Indonesia Bawa 70 Negosiator
Perubahan iklim - evogreen.co.uk

Bisnis.com, JAKARTA - Pemerintah Indonesia membawa puluhan negosiator untuk penanggulangan perubahan iklim pada Konferensi Perubahan Iklim (Climate Change Conference/COP) ke-25 di Madrid, Spanyol, yang berlangsung pada 2-13 Desember 2019.

Dipimpin Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Alue Dohong, para negosiator itu siap secara materi untuk debat pada hard diplomacy dan kesiapan paviliun Indonesia sebagai soft diplomacy.

"Kita punya negosiator hampir 40-70 orang yang terbagi dalam 13 tematik negosiasi yang akan kita perjuangkan di COP 25," tutur Alue dalam keterangan resmi, Senin (2/12/2019).

Alue menuturkan pelaksanaan COP 25 ini merupakan saat-saat menjelang implementasi Paris Agreement pada 1 Januari 2020. Salah satu aspek yang paling krusial adalah tentang artikel 6 dalam Paris Agreement. 

Artikel 6  mencakup sarana-sarana implementasi Paris Agreement melalui mekanisme market/pasar dan non-market/nonpasar. Menurut Alue, mekanisme pasar bisanya yang paling hangat negosiasinya karena kegunaan mekanisme pasar dalam mencapai Paris Agreement sangat dinamis.

"Ada negara-negara yang sepakat, tapi ada juga ada yang tidak sepakat. Kami berharap COP 25 ini ada kejelasan terkait mekanisme itu," katanya.

Artikel 6 Perjanjian Paris bertujuan untuk mempromosikan pendekatan terpadu, holistik, dan seimbang yang akan membantu pemerintah dalam mengimplementasikan NDC mereka melalui kerja sama internasional sukarela. Mekanisme kerja sama ini, jika dirancang dengan baik, akan membuatnya lebih mudah untuk mencapai target pengurangan dan meningkatkan ambisi. 

Secara khusus, Pasal 6 juga dapat membentuk landasan kebijakan untuk sistem perdagangan emisi, yang dapat membantu mengarah pada harga global untuk karbon.

Alue menegaskan upaya penanggulangan perubahan iklim harus segera diimplementasikan karena menyangkut risiko yang akan dialami oleh beberapa negara terutama small island countries di Pasifik yang rentan berkurang wilayahnya karena terjadi kenaikan muka air laut akibat adanya perubahan iklim.

Indonesia juga merupakan negara kepulauan dengan 13 ribu lebih pulau. Oleh karenanya, Indonesia fokus terhadap perubahan iklim karena bisa jadi pulau-pulau di Indonesia terancam mengalami masalah karena akibat peningkatan suhu global yang mengakibatkan muka air laut naik naik.

"Artinya, kami akan dukung upaya small island countries untuk sama-sama berjuang menekan kenaikan suhu 1,5 derajat agar bisa dicapai bersama," tegas Alue.

Pada soft diplomacy melalui Paviliun Indonesia, dipastikan sejumlah tokoh dunia dijadwalkan menjadi pembicara. Di antara yang sudah dipastikan adalah mantan Wakil Presiden Amerika Serikat Al Gore yang bersama panel antar pemerintah untuk perubahan iklim dianugerahi nobel perdamaian.

Selain Al Gore, tokoh dunia lain yang akan hadir adalah Profesor Nicholas Stern, seorang ekonom penulis buku ‘The Economics of Climate Change’ yang menjadi kitab rujukan global dalam memperhitungkan dampak perubahan iklim dalam paradigma ekonomi. Ada juga Profesor Jeffrey Sachs, ekonom Amerika Serikat yang memiliki banyak pemikiran tentang pengentasan kemiskinan.

Kehadiran tokoh dunia akan berdampak positif pada Paviliun Indonesia. Para tokoh dunia itu akan akan mendatangkan massa yang pada akhirnya akan meningkatkan perhatian publik pada Paviliun Indonesia yang berarti juga kepada aksi-aksi nyata yang sudah dilakukan Pemerintah Indonesia dalam upaya penanggulangan perubahan iklim.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perubahan iklim, klhk

Editor : Lucky Leonard
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top