Inflasi November Disumbang Faktor Musiman Jelang Akhir Tahun

Menjelang akhir tahun inflasi November tercatat mengalami kenaikan tipis dibandingkan dengan bulan sebelumnya.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 01 Desember 2019  |  12:53 WIB
Inflasi November Disumbang Faktor Musiman Jelang Akhir Tahun
Pedagang merapikan telur di Pasar Senen, Jakarta, Senin (29/4/2019). - ANTARA/Aprillio Akbar

Bisnis.com, JAKARTA – Menjelang akhir tahun inflasi November tercatat mengalami kenaikan tipis dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

Inflasi pada November 2019 terprediksi sebesar 0,22 persen month to month (mtm), naik tipis dari bulan sebelumnya sebesar 0,02 persen.

Menurut Kepala Ekonom Bank Mandiri Andri Asmoro, proyeksi ini setara dengan 3,08 persen year on year (yoy) mengecil dari bulan sebelumnya yaitu 3,13 persen (yoy).

“Penghitungan ini membuat secara kumulatif dari Januari sampai November 2019 inflasi menyentuh 2,43 persen year to date (ytd), lebih kecil dari periode yang sama tahun lalu sebesar 2,50 persen (ytd),” ujar Andri, Minggu (1/12/2019).

Andri menjelaskan, penyumbang inflasi November 2019 adalah faktor musiman menuju akhir tahun. Berdasarkan survei dari Bank Mandiri, beberapa harga yang mengalami kenaikan adalah bawang merah daging ayam dan telur ayam.

Meski demikian cabai merah dan cabai rawit justru mengalami penurunan atau deflasi. Sementara itu harga beras relatif stabil sepanjang November ini jika dibandingkan bulan sebelumnya.

“Kami juga melihat harga pada banyak komoditas di luar pangan seperti rokok kretek, tarif tol, mengalami kenaikan mendekati akhir tahun,” ulasnya.

Secara kumulatif Andry menjelaskan inflasi inti di luar harga pangan, dan juga inflasi harga bergejolak mengalami penurunan menjadi 3,13 persen (yoy) pada November. Posisi ini turun jika dibandingkan level inflasi inti pada Oktober 2019 sebesar 3,20 persen (yoy). Kondisi ini disebabkan harga emas yang mulai mengalami penurunan.

Ke depannya, kata Andry, rata-rata inflasi masih akan stabil dan diprediksikan menyentuh 3,14 persen sampai dengan akhir 2019. Angka ini nyaris tepat dengan prediksi Bank Indonesia bahwa inflasi tahun ini berkisar pada rentang 2,5 persen sampai 4,5 persen dengan titik tengah 3,1 persen.

 Oleh sebab itu, inflasi rendah dan terkendali ini mendukung keberlanjutan agenda bauran kebijakan dari Bank Indonesia. Sehingga, Bank Indonesia bisa tetap meluncurkan kebijakan moneter yang akomodatif. Kondisi tersebut selaras dengan sikap dovish yang ditunjukkan oleh beberapa bank sentral lain di dunia memasuki 2020.

“Kami melihat masih ada ruang bagi Bank Indonesia untuk memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 4,75 persen,” terang Andry. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Inflasi

Editor : Saeno
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top