Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Rumah Tapak Masih Pilihan Utama Pembelian Tempat Tinggal

Kebanyakan pembeli apartemen adalah mereka yang memang sudah memiliki kepastian pendapatan dan memang memiliki kepentingan untuk lebih dekat dengan tempat bekerja.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 25 November 2019  |  07:44 WIB
Rumah Tapak.  - Bisnis.com
Rumah Tapak. - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA — “Sumpah deh, gue mendingan ngontrak dari pada beli,” ungkap Bimo (26), pemilik warung kopi di Jakarta.

Menurutnya, sebagai milenial sekaligus pemilik usaha berkategori informal, untuk membeli rumah saat ini dengan penghasilan yang pas-pasan, masih terbilang sulit.

Apalagi, dengan penghasilan yang masih di batas upah minimum regional di Jakarta, Bimo mengatakan bahwa dirinya masih kesulitan mencari-cari hunian untuk dibeli. Di samping harganya yang tidak lagi masuk akal, kesulitan dalam membeli rumah juga dikarenakan syarat-syarat untuk melakukan akad kredit pemilikan rumah yang memang dianggap masih ribet.

“Ibaratnya kita kan KPR supaya bisa melakukan pembiayaan, tapi kalau mau ajukan kredit malah harus punya duit dulu, enggak sinkron kan?” katanya, Minggu (24/11).

Walaupun sudah banyak kemudahan yang diberi bank dan juga pemerintah mulai dari KPR khusus milenial, kemudahan loan to value (LTV), atau skema pembiayaan dari pengembang serta beragam promonya, nyatanya sebagai milenial, Bimo merasa persyaratan yang harus dihadapi, terutama untuk KPR subsidi masih rumit.

Mendingan ngontrak dulu sih, seenggaknya keluar dulu deh dari rumah orang tua atau mertua nanti, tinggal bayar bulanan. Lebih menguntungkan juga buat yang punya rumah kontrakannya, kan? Nanti kalau udah punya penghasilan pasti dan banyak, baru deh beli rumah,” ujarnya.

Bimo menyebutkan bahwa sewa dianggap lebih mudah, lantaran tinggal membuat perjanjian saja dengan pemilik rumah yang dikontrakkan, pembayaran lebih mudah, bisa berpatungan dengan pasangan, dan dinilainya masih sesuai dengan pendapatan orang-orang yang baru memulai karier.

Jika sudah mampu membeli rumah kelak, kata Bimo, preferensinya tetaplah kepada rumah tapak.

Menurutnya, membeli atau menyewa apartemen seperti tidak ada wujudnya, belum lagi ada biaya selain biaya sewa seperti iuran pemeliharaan lingkungan yang membuat pengeluaran malah jadi bertambah.

RUMAH TAPAK

Hal ini sejalan dengan yang disampaikan Country Manager Rumah123.com Maria Herawati Manik yang mengatakan bahwa rumah tapak masih menjadi pilihan paling banyak dari para konsumen pembeli rumah.

“Memang ada kenaikan dari sisi pembelian apartemen atau sewa, tapi rumah tapak tetap paling tinggi peminatnya. Mau ukurannya kecil juga tetap banyak peminatnya,” ungkapnya kepada Bisnis, beberapa waktu lalu.

Maria mengatakan bahwa kebanyakan pembeli apartemen adalah mereka yang memang sudah memiliki kepastian pendapatan dan memang memiliki kepentingan untuk lebih dekat dengan tempatnya bekerja.

Adapun, jika mempunyai uang lebih, mereka juga pasti akan tetap membeli rumah tapak di wilayah pinggiran.

“Bisa jadi memang sama mereka para milenial, [apartemen] dipakai untuk investasi juga, tapi ditempati juga. Jadi, kalau pengembang mau bikin apartemen ya, dari segi lokasi wajib strategis, menurut saya. Kalau jauh ya, harus sabar-sabar jualannya,” kata Maria.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

apartemen rumah tapak rumah milenial
Editor : Zufrizal
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top