Saatnya Perusahaan Properti Melantai di Bursa, Ini Alasannya

Tren industri co-living memiliki prospek bisnis yang cukup menjanjikan, khususnya residensial dengan harga dibawah Rp800 juta.
Ipak Ayu H Nurcaya
Ipak Ayu H Nurcaya - Bisnis.com 22 November 2019  |  01:20 WIB
Saatnya Perusahaan Properti Melantai di Bursa, Ini Alasannya
Bursa Efek Indonesia - Antara

Bisnis.com, JAKARTA — Tren industri co-living memiliki prospek bisnis yang cukup menjanjikan, khususnya residensial dengan harga dibawah Rp800 juta.

Edwin Sebayang Analis MNC Sekuritas mengatakan perusahaan properti yang memiliki prospek bagus antara lain properti di sektor industri, berkaitan dengan emiten properti yang mendapatkan pendapatan berulang seperti hotel, mal dan konsep co-living karena lebih stabil dibanding yang hanya khusus jual putus.

Edwin menambahkan apabila dilihat secara rata-rata year to date kinerja emiten properti terbilang masih lumayan bagus. Namun, hal itu juga harus didasari oleh kinerja fundamental perusahaan tersebut.

Apabila ada perusahaan properti berencana melakukan IPO, saat ini dinilai sebagai waktu yang tepat. Selain tren suku bunga pinjaman terus menurun, loan to value (LTV) diperlonggar dan asing makin mudah memiliki aset properti di Indonesia.

“Sektor properti kedepannya diperkirakan akan bergairah. Kalau mau IPO saat ini, sangat tepat karena kondisi ekonomi sedang stabil,” katanya melalui siaran pers, Kamis (21/11/2019).

Salah satu aspek keberhasilan dari perusahaan properti yang ingin IPO, lanjutnya, ditentukan bagaimana cara emiten tersebut mendapatkan pendapatan atau revenue saat kondisi properti sekarang sedang lesu.

Selain itu juga, investor melihat valuasi, besaran size IPO, portofolio proyek properti yang berada di pusat keramaian hingga harga yang dimainkan oleh pelaku industri dalam memasarkan produknya.

Adapun salah satunya, pemain bisnis co-living yang sudah lama berkecimpung yakni PT Hoppor International atau lebih dikenal Kamar Keluarga. Dalam dua tahun, Kamar Keluarga telah memiliki 2.041 kamar yang tersebar di 75 lokasi strategis dan dekat dengan sarana TOD.

CEO Kamar Keluarga Charles Kwok mengatakan ada lima pilar bisnis yang dikembangkan oleh Kamar Keluarga (KK). Pertama, pilar KK BOT (build operate transfer), di mana pihaknya membantu pemilik tanah membangun properti dan nantinya menggunakan sistem bagi hasil.

Kedua yaitu KK Aset yang dapat membantu para mitra untuk mencari, membangun dan mengelola properti hingga menghasilkan Return of Investment (RoI) memuaskan, serta mendukung pertumbuhan ekonomi melalui sektor properti di Indonesia.

Ketiga, KK Operator dengan mengelola secara penuh seluruh lahan yang dijadikan kos maupun bisnis lainnya.

Keempat yaitu KK Development dimana perusahaan bertindak sebagai ahli membangun rumah minimalis, efektif dan efisien sehingga harga terjangkau dan sesuai dengan kebutuhan pasar saat ini yang mampu mendorong generasi milenial memiliki properti milik sendiri.

Kelima adalah KK Vertikal. Memanfaatkan ruang yang ada untuk dijadikan bisnis baru, seperti binatu, warung, atau tempat makan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
properti

Editor : Sutarno
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top