Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

BKPM Ajak Amerika Serikat Investasi pada Manufaktur

Seperti diketahui, Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan bahwa saat ini Indonesia mengalami deindustrialisasi prematur. Hal ini terbukti dengan kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB sekarang berada di bawah 20% dan cenderung tumbuh di bawah rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional.
Muhamad Wildan
Muhamad Wildan - Bisnis.com 21 November 2019  |  17:01 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) optimistis bisa menarik Amerika Serikat untuk berinvestasi di Indonesia pada sektor manufaktur.

Seperti diketahui, Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan bahwa saat ini Indonesia mengalami deindustrialisasi prematur. Hal ini terbukti dengan kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB sekarang berada di bawah 20% dan cenderung tumbuh di bawah rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional.

Untuk tahun depan, pemerintah menargetkan realisasi investasi di Indonesia baik penanaman modal dalam negeri (PMDN) maupun penanaman modal asing (PMA) mencapai Rp886 triliun dengan kontribusi investasi menuju sektor manufaktur mencapai 36,2% dari keseluruhan realisasi investasi.

Deputi Bidang Kerjasama Penanaman Modal BKPM Wisnu Wijaya Soedibjo mengatakan bahwa AS memiliki peluang untuk berinvestasi di sektor manufaktur, terutama pada petrochemical, pengolahan batu bara menjadi CTL, dan industri makanan minuman.

"Ke depannya untuk manufaktur AS akan lebih banyak lagi yang bukan offshore atau hulu migas tapi agak ke middle dan hilirnya," ujar Wisnu, Kams (21/11/2019).

Saat ini, investasi AS di Indonesia kebanyakan tertuju pada sektor pertambangan dengan proporsi 88% dari keseluruhan investasi AS.

Menurut Wisnu, Indonesia saat ini memiliki tenaga kerja yang melimpah dan sangat mudah untuk dilatih sehingga ke depan akan sangat menarik terutama untuk manufaktur yang padat karya.

Lebih lanjut, investor asing di Indonesia juga diperbolehkan untuk mempunyai kepemilikan atas tanah sehingga investor mendapatkan kepastian atas aset, tidak seperti Vietnam yang melarang kepemilikan atas tanah.

Dari sisi konsumsi, Indonesia memiliki jumlah penduduk yang besar dan 2/3 merupakan angkatan kerja sehingga hal ini akan sangat menarik bagi investor asing yang bergerak di sektor hilir seperti makanan minuman.

Ke depan, negara-negara Asia Timur seperti Jepang, China, dan Korea diproyeksikan masih akan tetap menjadi penyumbang besar investasi asing di sektor manufaktur.

Adapun subsektor manufaktur yang bakal menjadi andalan untuk menyerap investasi antara lain tekstil dan produk tekstil (TPT), makanan dan minuman, komponen kendaraan bermotor, dan elektronik.

Investasi untuk pembangunan smelter terutama smelter nikel juga diproyeksikan akan meningkat dan hal ini akan membantu BKPM untuk mencapai target investasi di sektor manufaktur sebagaimana yang telah ditargetkan oleh pemerintah.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

investasi
Editor : Achmad Aris
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top