China Cabut Larangan Pengiriman Unggas AS

China mencabut larangan terhadap pengiriman unggas Amerika Serikat (AS) yang telah diberlakukan selama empat tahun. Langkah ini menjadi tanda progres kesepakatan perdagangan antara kedua negara yang masih tak berujung.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 15 November 2019  |  09:56 WIB
China Cabut Larangan Pengiriman Unggas AS
Ilustrasi unggas - Reuters/Randall Hill

Bisnis.com, JAKARTA – China mencabut larangan terhadap pengiriman unggas Amerika Serikat (AS) yang telah diberlakukan selama empat tahun. Langkah ini menjadi tanda progres kesepakatan perdagangan antara kedua negara yang masih tak berujung.

Dalam sebuah pernyataan, Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer dan Menteri Pertanian AS Sonny Perdue mengatakan ekspor Amerika ke China diproyeksikan mencapai US$1 miliar per tahun.

Menyusul pemberitaan ini, saham produsen ayam Pilgrim's Pride Corp. naik tajam 4,7 persen dan Sanderson Farms Inc. melonjak 6,6 persen.

"Mencabut larangan itu telah menjadi prioritas utama industri unggas AS selama empat tahun terakhir,” terang National Chicken Council, National Turkey Federation, dan USA Poultry and Egg Export Council.

“Tindakan ini merupakan peluang signifikan bagi para produsen ayam dan kalkun AS,” sambung mereka dalam sebuah pernyataan pada Kamis (14/11/2019), seperti dilansir melalui Bloomberg.

Pada puncaknya, nilai tahunan ekspor unggas dari AS ke China sebesar US$71 juta untuk kalkun dan US$722 juta untuk ayam, menurut kelompok itu.

Kesepakatan tentang unggas telah menjadi pembahasan lanjutan di antara kedua belah pihak saat melakukan negosiasi untuk kesepakatan perdagangan parsial. Awal bulan ini, Departemen Pertanian AS mengatakan akan menghapus pembatasan atas pengiriman unggas China.

Menurut Penasihat Ekonomi Gedung Putih Larry Kudlow, kedua negara hampir mencapai kesepakatan dagang 'fase satu'.

Namun, sumber terkait menuturkan bahwa para negosiator China menolak usulan dari pejabat pemerintah AS agar memberikan target bulanan, kuartalan, dan tahunan untuk pembelian pertanian secara keseluruhan.

Sementara itu, pencabutan larangan tersebut kemungkinan akan menjadi kemenangan besar bagi peternak dan pengolah daging AS. Langkah itu dilakukan ketika demam babi Afrika menghancurkan kawanan babi di China, konsumen daging babi terbesar di dunia.

Negara berekonomi terbesar kedua di dunia ini dengan cepat meningkatkan impor dagingnya demi membantu memenuhi kesenjangan pasokan protein.

Larangan terhadap unggas AS sebelumnya diberlakukan pada 2015 karena wabah flu burung yang sangat patogen. Sebelum tahun tersebut, pengiriman AS tunduk pada tarif anti-dumping dan anti-subsidi.

“Keputusan untuk mencabut larangan itu sangat positif...karena akan menambah nilai bagi seluruh penjualan daging unggas,” ujar CEO JBS USA Andre Nogueira.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
china, unggas

Editor : Mia Chitra Dinisari
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top