Sriwijaya Air dan NAM Air Disarankan Setop Operasi, Setujukah Anda?

Sriwijaya Air hanya mengoperasikan beberapa pesawat sehingga ada sejumlah penerbangan yang mengalami keterlambatan hingga dibatalkan sehingga merugikan pengguna jasa angkutan udara.
Rio Sandy Pradana
Rio Sandy Pradana - Bisnis.com 08 November 2019  |  05:41 WIB
Sriwijaya Air dan NAM Air Disarankan Setop Operasi, Setujukah Anda?
Pesawat Sriwijaya Air menunggu persiapan penerbangan di apron Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Senin (11/12). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA - Sriwijaya Air dan NAM Air disarankan untuk menghentikan operasional sementara menyusul pemutusan kerja sama operasi dengan Garuda Indonesia Group yang mengakibatkan layanan penerbangan menjadi terganggu.

Pemerhati penerbangan sekaligus anggota Ombudsman RI Alvin Lie menuturkan Sriwijaya Air hanya mengoperasikan beberapa pesawat sehingga ada sejumlah penerbangan yang mengalami keterlambatan (delayed) hingga dibatalkan (cancelled). Hal tersebut merugikan pengguna jasa angkutan udara.

"Kalau sudah seperti ini sebaiknya [Sriwijaya] hentikan operasi sementara, daripada hanya mengoperasikan beberapa pesawat saja. Langkah ini juga sebagai bentuk komitmen jaminan mereka pada keselamatan penerbangan," katanya kepada Bisnis.com, Kamis (7/11/2019).

Menurutnya, Sriwijaya perlu segera membereskan penunjukan jajaran direksi baru, mengangkut penumpang yang terlantar menggunakan maskapai lain, dan menghentikan penjualan tiket sampai ada kejelasan.

Pada saat Garuda Indonesia Group dan Sriwijaya Air sepakat untuk rujuk pada 1 Oktober 2019, disekapati adanya masa transisi yang dilaksanakan oleh jajaran direksi khusus. Direksi tersebut hanya memiliki mandat hingga 31 Oktober 2019.

Sampai saat ini, lanjutnya, belum ada kesepakatan pembaruan maupun penunjukan direksi definitif usai masa transisi berakhir. Secara otomatis perizinan maskapai tersebut sudah tidak memenuhi syarat lagi dan berisiko menyalahi aturan. 

Di sisi lain, Alvin berpendapat beberapa BUMN seperti PT Gapura Angkasa, PT GMF Aero Asia Tbk., hingga Pertamina terus menagih kewajiban terhadap Sriwijaya Air. Hal tersebut bakal memberatkan maskapai milik keluarga Chandra Lie itu.

Bila Sriwijaya Air  kesulitan untuk menyelesaikan biaya perawatan pesawat, imbuhnya, ada aspek keselamatan penerbangan yang dipertaruhkan. "Saya mendesak Kemenhub untuk bersikap tegas dalam masalah ini," ujarnya.

Dia menilai penyebab pecah kongsi tersebut berasal dari ketidaksamaan prinsip kedua kelompok maskapai tersebut. Fokus utama Garuda dalam KSO adalah untuk membantu Sriwijaya agar kondisi keiangannya cukup sehat, sehingga dapat membayar utang yang sudah menunpuk di berbagai BUMN.

Sebaliknya, Sriwijaya Air dinilai memanfaatkan KSO untuk meningkatkan nilai perusahaannya, sehingga ada kenaikan pendapatan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
citilink, sriwijaya air, garuda indonesia

Editor : Hendra Wibawa
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top