Serapan Tembakau Lambat Disinyalir Akibat Rencana Penyesuaian Tarif Cukai

Lambatnya serapan hasil panen tembakau oleh industri yang diiringi penurunan harga jual. Rencana pemerintah untuk menyesuaikan tarif cukai hasil tembakau (CHT) untuk 2020 disinyalir menjadi penyebab kondisi ini.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 15 Oktober 2019  |  13:04 WIB
Serapan Tembakau Lambat Disinyalir Akibat Rencana Penyesuaian Tarif Cukai
Buruh tani mengangkat daun tembakau hasil panen di Bolon, Colomadu, Karanganyar, Jawa Tengah, Senin (4/9). - ANTARA/Mohammad Ayudha

Bisnis.com, JAKARTA — Lambatnya serapan hasil panen tembakau oleh industri yang diiringi penurunan harga jual. Rencana pemerintah untuk menyesuaikan tarif cukai hasil tembakau (CHT) untuk 2020 disinyalir menjadi penyebab kondisi ini.

Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (DPN APTI) Agus Parmuji mengeluhkan untuk tembakau kering dengan kelas E atau F yang merupakan kualitas terbaik, harga pembelian kini berkisar di Rp135.000 per kg—Rp145.000 per kg. Padahal, tembakau kualitas ini biasanya dihargai Rp175.000 per kg—Rp200.000 per kg. 

“Terjadi guncangan di industri karena tembakau yang dibeli dari petani tidak langsung dijadikan bahan campuran pembuatan rokok. Sekitar 1 sampai 2 tahun baru kemudian dipakai. Rencana pemberlakuan kenaikan cukai tahun depan ini berdampak pada serapan industri rokok tahun ini,” tuturnya kepada Bisnis, Senin (14/10/2019). 

Sementara itu, Ketua Asosiasi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI) Budidoyo belum bisa memastikan apakah lambatnya serapan industri dipengaruhi oleh rencana kenaikan cukai. Kendati demikian, ia menyatakan kondisi ini bisa saja lebih didorong oleh permainan harga oleh tengkulak. 

“Informasi kenaikan cukai ini bisa saja dimainkan mereka sehingga bisa memperoleh harga sesuai kehendak,” tutur Budidoyo. 

Adapun, produksi tembakau dalam negeri berpotensi turun sampai 30% pada tahun ini meski produsen melaporkan kualitas tanaman yang lebih baik seiring berlangsungnya kemarau yang panjang. 

Berdasarkan data yang dihimpun APTI, dari 15 provinsi yang tercatat dengan luas lahan mencapai 245.000 hektare (ha) pada 2018, produksi tembakau tahun lalu mencapai 220.000 ton. Sementara untuk tahun ini, Agus memperkirakan jumlahnya berkisar di angka 180.000 ton sampai 200.000 ton. 

Kondisi cuaca sendiri memiliki andil yang besar dalam produksi tembakau. Sektor hulu tembakau tercatat pernah menderita penurunan produksi pada 2016 karena curah hujan yang tinggi. 

Direktorat Jenderal Perkebunan mencatat produksi pada tahun itu menyentuh 126.728 ton, turun sekitar 34% dari kinerja 2015 yang mencapai 193.790 ton. Adapun untuk 2018 lalu, Ditjen bun mencatat produksi tembakau mencapai 181.308 ton, lebih rendah dibanding data yang dihimpun asosiasi petani. 

Dengan adanya potensi penurunan produksi ini, importasi tembakau dipastikan berlanjut mengingat kebutuhan industri setiap tahunnya mencapai 330.000 ton untuk menghasilkan sekitar 3 miliar batang rokok. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
tembakau, Cukai Rokok

Editor : Lucky Leonard
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top