Produksi Tembakau Indonesia Berpotensi Turun

Produksi tembakau dalam negeri berpotensi turun sampai 30% pada tahun ini meski produsen melaporkan kualitas tanaman yang lebih baik seiring berlangsungnya kemarau yang panjang. 
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 15 Oktober 2019  |  12:28 WIB
Produksi Tembakau Indonesia Berpotensi Turun
Warga menjemur tembakau rajangan di lapangan Desa Ngadimulyo, Kedu, Temanggung, Jateng, Rabu (13/9). - ANTARA/Anis Efizudin

Bisnis.com, JAKARTA — Produksi tembakau dalam negeri berpotensi turun sampai 30% pada tahun ini meski produsen melaporkan kualitas tanaman yang lebih baik seiring berlangsungnya kemarau yang panjang. 

Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (DPN APTI) Agus Parmuji mengemukakan penurunan kuantitas ini banyak dipengaruhi pasokan air kala masa penanaman dan perawatan. Agus menyebutkan masa tanam tembakau tahun ini dimulai pada April sampai Mei yang bertepatan dengan penghujung musim hujan di sebagian daerah produksi. 

“Kualitas lebih baik daripada tahun lalu. Kalau secara kuantitas ada penurunan sekitar 30% karena kekurangan air saat masa tanam dan perawatan,” kata Agus kepada Bisnis, Senin (14/10/2019). 

Berdasarkan data yang dihimpun APTI, dari 15 provinsi yang tercatat dengan luas lahan mencapai 245.000 hektare (ha) pada 2018, produksi tembakau tahun lalu mencapai 220.000 ton. Sementara untuk tahun ini, Agus memperkirakan jumlahnya berkisar di angka 180.000 ton sampai 200.000 ton. 

Kondisi cuaca sendiri memiliki andil yang besar dalam produksi tembakau. Sektor hulu tembakau tercatat pernah menderita penurunan produksi pada 2016 karena curah hujan yang tinggi. 

Direktorat Jenderal Perkebunan mencatat produksi pada tahun itu menyentuh 126.728 ton, turun sekitar 34% dari kinerja 2015 yang mencapai 193.790 ton. Adapun untuk 2018 lalu, Ditjen bun mencatat produksi tembakau mencapai 181.308 ton, lebih rendah dibanding data yang dihimpun asosiasi petani. 

“Data dari kami tembakau ada di 15 provinsi, ada beberapa daerah seperti di Aceh dan Sulawesi yang belum terdata. Tetapi dengan luas 245.000 ha, tahun lalu produksi mencapai 220.000 ton. Data ini kami akan sinkronkan dengan data Kementerian Pertanian,” sambungnya. 

Dengan adanya potensi penurunan produksi ini, importasi tembakau dipastikan berlanjut mengingat kebutuhan industri setiap tahunnya mencapai 330.000 ton untuk menghasilkan sekitar 3 miliar batang rokok.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
tembakau, Harga Rokok

Editor : Lucky Leonard
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top