Kinerja Ekspor September 2019 Turun 1,29 Persen

Penurunan ekspor September 2019 terjadi karena adanya penurunan ekspor migas dan nonmigas. Ekspor migas turun 5,17% menjadi US$0,83 miliar, sedangkan ekspor nonmigas turun 1,03% menjadi US$13,27 miliar.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 15 Oktober 2019  |  11:06 WIB
Kinerja Ekspor September 2019 Turun 1,29 Persen
Petugas dibantu alat berat memindahan kontainer dari kapal ke atas truk pengangkut di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta, Selasa (17/5). JIBI/Bisnis - Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA -- Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kinerja ekspor September 2019 mencapai US$14,10 miliar atau turun 1,29% dibandingkan dengan Agustus 2019.

Penurunan ekspor September 2019 terjadi karena adanya penurunan ekspor migas dan nonmigas. Ekspor migas turun 5,17% menjadi US$0,83 miliar, sedangkan ekspor nonmigas turun 1,03% menjadi US$13,27 miliar.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan situasi global masih diliputi ketidakpastian di mana perang dagang masih berlangsung dan harga komoditas masih berfluktuasi.

"Ada beberapa komoditas yang mengalami peningkatan harga a.l. nikel, perak, coklat, seng, timah, tembaga, aluminium, dan emas. Ini nanti akan memengaruhi ke kinerja ekspor," katanya saat jumpa pers, Selasa (15/10/2019).

Di pihak lain juga ada komoditas yang turun seperti minyak sawit.

Adapun secara kumulatif dari Januari-September 2018, total ekspor mengalami penurunan 8,0% (yoy) dari Januari-September 2018. Adapun Agustus – September, ekspor tercatat US$124,17 miliar. Dia menyatakan, ekspor migas secara (mtm) turun 5,17%, sedangkansecara (yoy), turun 37,13%.

 Jika dibandingkan dengan Agustus 2019, nilai ekspor pertanian turun 5,27% (mtm), dan secara (yoy) turun 12,14%. Sementara itu untuk industri, secara (mtm), turun 3.51% dan secara (yoy) turun 0,44%. Penurunan terjadi untuk komoditas ekspor logam dasar mulia, pakaian jadi dari tekstil, peralatan listrik, dan kendaraan bermotor roda empat.

 Untuk industri pengolahan, ekspor secara (mtm) turun, 3,51%, dan secara (yoy) turun 0,44%. Untuk ekspor pertambangan dan lainnya cenderung naik menjadi 13,03% tetapi secara (yoy) masih mengalami penurunan sekitar 14,82%.

Sebelumnya, sejumlah ekonom masih memprediksi neraca perdagangan September 2019 akan mencatatkan defisit akibat melemahnya permintaan dari China sebagai dampak perang dagang dan peraturan relaksasi impor barang modal dari Kementerian Perdagangan.

Menurut ekonom Bank UOB Indonesia Enrico Tanuwidjaja, kemungkinan neraca perdagangan September 2019 masih defisit karena perang dagang. Dia menilai, ada pelemahan pertumbuhan ekonomi China yang terlihat dari turunnya konsumsi dan permintaan ekspor dari Indonesia.

“Ada pertumbuhan ekonomi yang melambat di China, yang menyebabkan ada dampak ke permintaan terhadap komoditas,” ujar Enrico, Senin (14/10/2019).

Dia menilai, prediksi defisit itu masih cukup kecil, yakni di bawah US$100 juta.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Neraca Perdagangan

Editor : Achmad Aris
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top