Industri Kain Jadi Titik Lemah Sektor Tekstil

Sampel kain yang dapat dibuat dalam waktu 2 jam dengan mesin terbaru, harus memakan waktu hingga 10 hari jika menggunakan mesin lama.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 14 Oktober 2019  |  10:28 WIB
Industri Kain Jadi Titik Lemah Sektor Tekstil
ilustrasi. - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA – Para pelaku industri tekstil dan produk tekstil (TPT) sepakat bahwa titik lemah industri berada pada industri antara, tepatnya pada produksi kain mentah menjadi kain jadi.

Ada tiga hal yang dinilai membuat proses tersebut menjadi lemah yakni kondisi mesin produksi, regulasi lingkungan, dan minimnya ruang di pasar domestik.

Walau industri hilir TPT mengalami pertumbuhan penjualan dan selalu membukukan neraca dagang yang positif, Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) melihat dua sektor industri TPT selalu membukukan neraca dagang yang negatif. Negatifnya neraca dagang industri serat dapat dimaklumi mengingat pertanian nasional tidak menghasilkan kapas. Alhasil, neraca dagang industri kapas terus melebar mencapai minus 678.871 ton pada akhir 2017.

Namun demikian, hasil berlebihnya impor tersebut dapat ditutupi dengan penambahan nilai pada industri pengolahan benang yang tercatat selalu surplus. Pada akhir 2017, surplus volume neraca dagang industri benang mencapai 766.992 ton. Adapun, volume produksi industri benang lokal mencapai 2,2 juta ton benang.

Namun, neraca dagang industri kain selalu negatif. API menyatakan volume produksi industri kain mencapai 1,3 juta ton dengan konsumsi nasional sebesar 1 juta ton pada 2017. Idealnya, menurut API, volume impor kain dapat minimal dengan volume produksi yang mendekati tingkat konsumsi. Namun demikian, volume impor kain mencapai 755.004 ton dengan volume ekspor sebesar 255.025 ton pada 2017.

API menyatakan sekitar 70% dari mesin yang digunakan pada industri tekstil merupakan mesin yang dibuat pada 1990-an. Alhasil, sampel kain yang dapat dibuat dalam waktu 2 jam dengan mesin terbaru harus memakan waktu hingga 10 hari. Rendahnya produktivitas tersebut tertransmisikan ke hilir industri TPT.

“Jadi, garmen yang diimpor dari China dan Korea Selatan tetap lebih murah setelah ditambah oleh biaya logistik dan cukai di dalam negeri [dibandingkan dengan garmen lokal,” ujar Ketua Umum API Ade Sudrajat kepada Bisnis pekan lalu.

Ade menuturkan industri TPT merupakan industri yang bertahan melewati krisis 1998 dengan segala regulasi yang memberatkan. Namun, lambatnya peremajaan mesin industri kain membuat struktur industri yang kokok tersebut membuat pertumbuhan industri TPT tertahan.

Ade menilai regulasi limbah berbahaya dan beracun (B3) yang diterapkan pada industri kain tidak adil. Pasalnya, industri kain jadi diharuskan menjaga chemichal oxygen demand (COD) dan biologycal oxygen demand (BOD) di level 115 dari posisi sebelumnya 150.

Menurutnya, hal tersebut tidak adil lantaran industri lain memiliki level COD dan BOD yang lebih tingi seperti industri pulp dan kertas pada 300 dan industri pengolahan minyak sawit pada 600.

Adapun, hal tersebut merupakan salah satu penyebab rendahnya investasi, riset, dan pengembangan pada industri kain jadi. Alhasil, produk kain jadi impor memenuhi pasar lokal meskipun kapasitas terpasang industri kain mentah dapat memenuhi konsumsi nasional.

Sekretaris Jenderal API Ernovian G. Ismy mengatakan pertumbuhan ekspor TPT tidak serta-merta menjadi sinyal positif bagi industri TPT. Dia khawatir walaupun industri garmen mencatatkan performa positif, neraca industri tekstil yang selama ini melaju di zona merah dapat membuat net ekspor industri TPT justru menipis.

“Jangan sampai pemerintah bilang ‘ini kan sudah meningkat, tidak usah ditinggikan kainnya’. Performa industri kain itu ancaman. Nanti akhirnya yang jadi masalah di neraca perdagangan. Minus sih tidak, tapi kita berbicara net ekspornya,” ujarnya kepada Bisnis.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
tekstil, industri tpt

Editor : Galih Kurniawan
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top