Nilai Pembayaran Industri Fintech Asia Tenggara Diproyeksi US$1 Triliun Per 2025

Perusahaan keuangan berbasis teknologi (financial technology/fintech) berkontribusi meningkatkan akses terhadap layanan keuangan bagi masyarakat di wilayah Asia Tenggara.
Ropesta Sitorus
Ropesta Sitorus - Bisnis.com 07 Oktober 2019  |  21:45 WIB
Nilai Pembayaran Industri Fintech Asia Tenggara Diproyeksi US$1 Triliun Per 2025
Financial Technology (Fintech) - channelasia

Bisnis.com, JAKARTA – Perusahaan keuangan berbasis teknologi (financial technology/fintech) berkontribusi meningkatkan akses terhadap layanan keuangan bagi masyarakat di wilayah Asia Tenggara.

Pertumbuhan pesat perusahaan fintech di seluruh Asia selama lima tahun terakhir didorong oleh banyak faktor, mulai dari kemajuan teknologi, tingkat penetrasi internet. Selain itu kian banyaknya jumlah orang yang melek finansial juga menuntut adanya layanan keuangan yang lebih baik.

Dikutip dari Entrepreneur.com, Senin (7/10/2019), sebuah studi yang dilakukan Google, Temasek dan Bain & Co baru-baru ini menunjukkan bahwa pembayaran digital di Asia yang mencakup layanan transfer dan dompet elektronik, telah mencapai titik belok (inflection point), sebuah titik di mana perubahan dramatis akan segera terjadi.

Dengan pertumbuhan dua digit, nilai pembayaran digital diperkirakan  akan tembus US$1 triliun pada tahun 2025. Pasar untuk e-wallet diperkirakan akan tumbuh lebih cepat, dari US$22 miliar pada tahun 2019 menjadi US$114 miliar, naik lebih dari lima kali lipat pada 2025.

Selain dari para pelaku bisnis bisnis keuangan perbankan, asuransi, perusahaan pengiriman uang, dunia fintech di Asia juga mendapat perhatian yang cukup besar dari pelaku industri e-commerce, fintech game, platform media sosial, serta perusahaan transportasi online.

Beberapa pelaku usaha yang hanya fokus pada layanan keuangan online - seperti aplikasi pembayaran Momo di Vietnam, layanan manajemen kekayaan digital Stashaway, serta pemberi pinjaman digital di Indonesia Akulaku – menavigasi beberapa pain point seperti akses, kemudahan, dan transparansi dalam penyediaan layanan keuangan.

“Namun, mereka masih menghadapi tantangan dari sisi biaya akuisisi pelanggan yang tinggi dan masih harus dilihat lagi apakah mereka dapat menghasilkan akses finansial yang berkelanjutan seumur hidup,” kata studi tersebut.

Di lain pihak, perusahaan lain seperti Lazada, Gojek, Grab dan Sea Group memiliki leg-up di fintech murni karena mereka sudah memiliki basis pelanggan yang mapan sehingga hambatannya lebih sedikit. Mereka bermitra dengan perusahaan keuangan tradisional untuk menawarkan layanan seperti asuransi dan pinjaman, bersama dengan pembayaran digital.

Studi tersebut menyebutkan dari 400 juta orang dewasa di Asia Tenggara, setidaknya ada 198 juta yang masuk kategori unbanked, bahkan belum memiliki rekening.

Dengan jumlah populasi unbanked yang belum mampu mengakses layanan keuangan formal, perusahaan fintech memiliki potensi yang besar untuk bertumbuh di Asia Tenggara.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
fintech

Editor : Akhirul Anwar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top